Catatan Networking & CCNA 200-301
Ringkasan Materi & Referensi Konfigurasi Cisco
15Topik
40Blok konfigurasi
Checklist Urutan Konfigurasi Perangkat (End-to-End)
- Atur hostname dan password (enable secret, password console, password vty)
- Atur EtherChannel bila ada link redundant antar switch/router
- Buat VLAN, dan atur VTP bila menggunakan SVI / L3 switch
- Atur interface: access/trunk mode, VLAN, portfast, allowed VLAN (atau port-channel bila pakai EtherChannel)
- Atur IP address VLAN (SVI), DHCP server, DHCP exclude, dan IP routing (bila L3 switch)
- Atur RPVST+ dan manipulasi Root Bridge bila diperlukan
- Atur IP address point-to-point antar router
- Atur routing protocol & advertise network. Lakukan redistribution bila menghubungkan 2 jenis routing protocol, dan atur passive-interface dari router ke arah VLAN
- Atur server (DHCP/DNS/dsb) bila diperlukan
- Atur access-list dan embed (ip access-group) ke interface yang sesuai
- Atur port security pada interface access ke end-device
- Atur NAT (IP public, default route ke ISP, access-list source, advertise default route ke jaringan internal)
Topik 1 dari 15
1Network Fundamental#
1.1Pengenalan Jaringan Komputer#
Deskripsi
- Jaringan komputer
- hubungan antara 2 komputer atau lebih yang bisa saling bertukar informasi
- IP address
- alamat dari sebuah komputer dalam jaringan
1.2IP Address dan Subnetting#
Deskripsi
- IP Public
- selain range IP Private di bawah, digunakan untuk komunikasi di internet
- Subnetting
- proses membagi satu network menjadi beberapa sub-network yang lebih kecil
Catatan
- Penulisan IP modern menggunakan notasi CIDR, contoh: 192.168.1.1/24
- /24 disebut prefix — menunjukkan jumlah bit yang digunakan sebagai network ID
Range IP Private (RFC 1918)
| Range | CIDR | Kelas | Jumlah IP Tersedia |
|---|---|---|---|
| 10.0.0.0 – 10.255.255.255 | 10.0.0.0/8 | A | 16.777.216 |
| 172.16.0.0 – 172.31.255.255 | 172.16.0.0/12 | B | 1.048.576 |
| 192.168.0.0 – 192.168.255.255 | 192.168.0.0/16 | C | 65.536 |
Contoh Perhitungan Subnetting (kebutuhan 100 host per subnet)
| Langkah | Perhitungan | Hasil |
|---|---|---|
| Tentukan jumlah IP | 2^7 = 128 (host bits = 7, karena 2^6=64 < 100 < 2^7=128) | 128 IP/subnet |
| Tentukan prefix | 32 − 7 (host bits) | /25 |
| Subnet mask | 256 − 128 | 255.255.255.128 |
Penting
Antar block subnet tidak bisa saling berkomunikasi tanpa router. Switch hanya menghubungkan device dalam block subnet yang sama; router menghubungkan block subnet yang berbeda.
1.2.1Contoh Blok Subnet (/25)#
Catatan
- Melanjutkan contoh subnetting /25 di atas: network 192.168.1.0/24 dipecah menjadi 2 block subnet (masing-masing /25)
- Tiap block terdiri dari: 1 IP Network (identitas subnet, tidak bisa dipakai host), IP Range (yang boleh dipakai host), dan 1 IP Broadcast (untuk mengirim ke semua host di subnet tsb, tidak bisa dipakai host)
Block pertama dan kedua dari 192.168.1.0/25
| Keterangan | Block 1 | Block 2 |
|---|---|---|
| IP Network (IP pertama) | 192.168.1.0 | 192.168.1.128 |
| IP Range (dapat dipakai host) | 192.168.1.1 – .126 | 192.168.1.129 – .254 |
| IP Broadcast (IP terakhir) | 192.168.1.127 | 192.168.1.255 |
1.3Networking Model (TCP/IP Model)#
Deskripsi
- Networking model
- mendefinisikan bagaimana komputer dapat saling berkomunikasi
- OSI Model
- model 7 layer, saat ini dipakai sebagai referensi/pembelajaran, bukan implementasi langsung
- TCP/IP Model
- model yang benar-benar diimplementasikan oleh semua vendor saat ini
Catatan
- Sebelum ada standar OSI/TCP-IP, tiap vendor punya networking model sendiri sehingga perangkat beda vendor tidak bisa saling terhubung
Pemetaan TCP/IP Model (dokumentasi vs umum disebut)
| Secara Dokumentasi | Umum Disebut |
|---|---|
| Application | Application |
| Transport | Transport |
| Internet | Network |
| Network Access | Data Link |
| Network Access | Physical |
1.3.1Fungsi Tiap Layer#
Catatan
- Setiap layer pada TCP/IP Model punya tanggung jawab masing-masing dan bekerja sama agar data bisa terkirim dari satu komputer ke komputer lain
- Semakin ke atas (Application) semakin dekat dengan pengguna/aplikasi, semakin ke bawah (Physical) semakin dekat dengan media transmisi fisik
Fungsi dan contoh protokol per layer
| Layer | Fungsi | Contoh |
|---|---|---|
| Application | Menghubungkan aplikasi dengan network | HTTP, SMTP, DNS, FTP |
| Transport | Memberi service (pengiriman data) ke application layer | TCP, UDP |
| Network | Menyediakan addressing (pengalamatan) dan routing (penentuan rute) | IP |
| Data Link | Mendefinisikan protokol untuk physical layer, deteksi error dengan FCS | Ethernet, MAC |
| Physical | Mendefinisikan media/cabling dan bentuk fisik koneksi antar komputer | Kabel UTP, Fiber |
1.3.2Encapsulation & Decapsulation#
Deskripsi
- Encapsulation
- proses pembungkusan data saat dikirim, terjadi di sisi pengirim (sender), data ditambahkan header tiap turun 1 layer
- Decapsulation
- proses pembukaan bungkus data saat diterima, terjadi di sisi penerima (receiver), header dilepas tiap naik 1 layer
Catatan
- Physical layer mengubah data menjadi bentuk biner (bit) untuk ditransmisikan
Nama Data (PDU) di Tiap Layer
| Layer | Nama Data (PDU) |
|---|---|
| Application Layer | Data |
| Transport Layer | Segment |
| Network Layer | Packet |
| Data Link Layer | Frame |
| Physical Layer | Bit |
Topik 2 dari 15
2Basic Cisco CLI#
2.1Mode pada Cisco#
Catatan
- Cisco IOS (sistem operasi perangkat Cisco) diakses lewat CLI (Command Line Interface) yang bertingkat-tingkat mode
- Tiap mode punya kumpulan command yang berbeda dan ditandai dengan prompt yang berbeda pula
- Untuk masuk ke mode yang lebih dalam harus melalui mode di atasnya secara berurutan (tidak bisa loncat)
3 Jenis Mode CLI
| Mode | Fungsi |
|---|---|
| User Mode ( > ) | Hanya untuk beberapa perintah monitoring dasar |
| Privileged Mode ( # ) | Monitoring + sedikit troubleshooting |
| Global Configuration Mode ( config# ) | Melakukan konfigurasi perangkat |
2.2Basic Command of Cisco#
Catatan
- Kumpulan command dasar yang paling sering dipakai saat pertama kali mengakses/mengonfigurasi perangkat Cisco
- Termasuk cara berpindah antar mode, memberi nama & password device, serta menyimpan konfigurasi
enable
! Masuk ke privileged mode (dari user mode)
configure terminal
! Masuk ke global config mode dari privileged mode
exit
! Keluar dari 1 mode (naik 1 tingkat)
end
! Keluar langsung ke privileged mode dari mode config manapun
hostname "name"
! Mengatur nama device
enable password "passwd"
! Mengatur password privileged mode (tidak terenkripsi / tidak aman)
enable secret "passwd"
! Mengatur password privileged mode (terenkripsi / aman)
show running-config
! Cek konfigurasi yang sedang berjalan/dipakai
do show running-config
! Menjalankan command show dari dalam global config mode
no enable password
! Menghapus konfigurasi enable password
service password-encryption
! Mengenkripsi password di running-config (tetap tidak sekuat 'secret')
write
! Menyimpan konfigurasi
copy running-config startup-config
! Menyimpan konfigurasi (cara lengkap)
Penting
'enable secret' selalu didahulukan dari 'enable password' jika keduanya dikonfigurasi bersamaan.
2.3Shortcut Command#
Catatan
- Ketik beberapa huruf awal yang sudah cukup unik untuk mewakili 1 command saja
- Bisa langsung dieksekusi (Enter) atau di-auto-complete (Tab)
- Contoh: 'e' tidak bisa dipakai karena ambigu (enable & exit) — 'en' → enable, 'ex' → exit
Contoh Shortcut
| Command Lengkap | Shortcut |
|---|---|
| enable | en |
| configure terminal | conf t |
| exit | ex |
| show running-config | show run |
2.4Konfigurasi Dasar IP Address (di Interface Router)#
Catatan
- Setiap interface router perlu diberi IP address agar bisa berkomunikasi dengan network yang terhubung padanya
- Interface router secara default dalam kondisi shutdown (mati), harus diaktifkan dulu dengan 'no shutdown'
interface fa0/0
! Masuk ke interface fa0/0
no shutdown
! Mengaktifkan interface fa0/0
ip address "ip_addr" "subnet_mask"
! Mengatur IP pada interface fa0/0
do show ip interface brief
! Cek status & IP interface yang berjalan
Topik 3 dari 15
3Switching Fundamentals#
3.1MAC Address & ARP Table#
Deskripsi
- MAC address
- alamat komputer secara fisik (tertanam di NIC)
- ARP table
- daftar pemetaan IP ↔︎ MAC address tujuan yang sudah diketahui
Catatan
- Agar bisa berkomunikasi, komputer harus mengetahui MAC address tujuan
Proses Terbentuknya ARP Table
| Langkah | Keterangan |
|---|---|
| 1 | Com1 ping ke Com2 (kirim ICMP ke IP tujuan, MAC belum diketahui) |
| 2 | Gagal karena Com1 belum tahu MAC address Com2 |
| 3 | Com1 broadcast ARP request ke semua neighbor |
| 4 | Com2 membalas dengan ARP reply ke Com1 |
| 5 | Com1 menyimpan MAC address Com2 di ARP table-nya; semua neighbor juga menyimpan MAC address Com1 |
arp -a
:: Cek ARP table pada PC
arp -d
:: Hapus ARP table pada PC
show mac-address-table
! Cek MAC address table pada switch
clear mac-address-table
! Hapus MAC address table pada switch
Topik 4 dari 15
4VLAN dan Trunking#
4.1VLAN (Virtual Local Area Network)#
Catatan
- VLAN membuat satu switch fisik berperilaku seperti beberapa switch logical
- Contoh: 3 VLAN dalam 1 switch fisik = seolah ada 3 switch terpisah
- Tujuan: mempermudah manajemen LAN (mis. 1 ruangan ada 3 divisi, hanya 1 divisi boleh akses medsos) dan memecah broadcast domain (broadcast hanya dikirim dalam 1 VLAN)
- Range nomor VLAN: 1–4094 (VLAN 0 dan 4095 direservasi oleh standar 802.1Q). Pada Cisco: 1–1005 normal range, 1006–4094 extended range, dan 1002–1005 direservasi untuk FDDI/Token Ring
- Secara default, semua interface switch berada di VLAN 1
- Untuk menghubungkan antar VLAN dibutuhkan router (karena beda network) — lihat Bab 5
vlan 10
! Membuat VLAN 10
interface fa0/1
! Masuk ke interface fa0/1
interface range fa0/1-3
! Masuk ke interface fa0/1 sampai fa0/3 sekaligus
interface range fa0/1, fa0/3
! Masuk ke interface fa0/1 dan fa0/3 saja
switchport mode access
! Mengatur port menjadi mode access
switchport access vlan 10
! Memasukkan interface ke VLAN 10
show vlan brief
! Cek konfigurasi VLAN yang berjalan
4.2Trunk#
Catatan
- Trunk digunakan agar 1 interface bisa melewatkan banyak VLAN sekaligus (antar switch-switch atau switch-router)
- Jika interface diatur sebagai access (bukan trunk), interface hanya bisa melewatkan 1 VLAN saja — yaitu VLAN yang di-assign ke port tsb (default VLAN 1 bila belum diatur)
interface fa0/1
! Masuk ke interface fa0/1
switchport mode trunk
! Mengatur port menjadi mode trunk
switchport trunk allowed vlan 10,20
! Mengatur VLAN yang diizinkan lewat trunk
switchport trunk allowed vlan add 30
! Menambah VLAN yang diizinkan
switchport trunk allowed vlan remove 30
! Menghapus VLAN yang diizinkan
switchport trunk encapsulation dot1q
! Mengatur protokol trunk menjadi dot1q (hanya diperlukan pada switch lama yang mendukung lebih dari satu jenis encapsulation trunk, yaitu dot1q dan ISL, mis. Catalyst 3550/3560 generasi lama — switch modern hanya mendukung dot1q sehingga command ini tidak akan muncul/diperlukan)
show interface trunk
! Cek konfigurasi trunk yang berjalan
4.3Dynamic Trunking Protocol (DTP)#
Deskripsi
- Mode trunk
- mengatur interface switch yang mengarah ke switch lain
- Mode access
- mengatur interface switch yang mengarah ke end-device
Catatan
- DTP jarang dipakai di lapangan (best practice: set manual trunk/access) karena berpotensi menimbulkan celah keamanan (VLAN hopping)
Tabel Hasil Negosiasi Antar Mode (SW1 / SW2)
| SW1 \ SW2 | Dynamic Auto | Dynamic Desirable | Trunk | Access |
|---|---|---|---|---|
| Dynamic Auto | Access | Trunk | Trunk | Access |
| Dynamic Desirable | Trunk | Trunk | Trunk | Access |
| Trunk | Trunk | Trunk | Trunk | Error |
| Access | Access | Access | Error | Access |
interface fa0/1
! Masuk ke interface trunk
switchport mode dynamic auto | dynamic desirable | trunk | access | nonegotiate
! Mengatur mode DTP interface
show interface fa0/1 switchport
! Cek mode interface
Penting
Dynamic Auto = menunggu diajak trunk. Dynamic Desirable = aktif mengajak jadi trunk. Trunk = memaksa jadi trunk. Access = memaksa jadi access. Contoh: SW1 (Dynamic Auto) — SW2 (Dynamic Desirable) → hasil akhir: trunk.
4.4Tagged & Untagged#
Deskripsi
- Tagged
- saat frame melewati trunk antar switch, ditambahkan tag (VLAN ID) agar switch penerima tahu frame tsb milik VLAN mana
- Untagged
- frame tanpa tag VLAN, hanya dipakai untuk native VLAN saat melewati trunk
4.5Native VLAN#
Catatan
- Secara default, native VLAN adalah VLAN 1
- Native VLAN tidak diberi tag saat melewati trunk (dikirim untagged)
- Native VLAN pada kedua ujung link trunk harus sama, jika berbeda akan muncul native VLAN mismatch
interface fa0/1
! Masuk ke interface trunk
switchport trunk native vlan "no_vlan"
! Mengubah native VLAN pada interface tersebut
Penting
Ubah native VLAN di kedua switch yang terhubung agar tetap konsisten (matching).
Topik 5 dari 15
5Menghubungkan Antar VLAN#
5.1Inter-VLAN Routing (Router-on-a-Stick)#
Catatan
- Digunakan untuk melakukan routing antar VLAN menggunakan 1 router dan 1 link trunk (subinterface)
interface fa0/1.10
! Membuat & masuk ke subinterface fa0/1.10
no shutdown
! Mengaktifkan subinterface fa0/1.10
encapsulation dot1q 10
! Meng-encapsulate subinterface untuk VLAN 10
ip address "ip_addr" "subnet_mask"
! Mengatur IP gateway untuk VLAN 10
5.2Switch Virtual Interface (SVI)#
Catatan
- Menghubungkan antar VLAN tanpa router terpisah
- Membutuhkan Multilayer Switch (MLS) / L3 Switch
interface vlan "no_vlan"
! Masuk ke interface VLAN (SVI)
no shutdown
! Mengaktifkan interface SVI
ip address "ip_addr" "subnet_mask"
! Mengatur IP gateway untuk VLAN tsb
ip routing
! Mengaktifkan fungsi routing pada switch (wajib agar antar SVI bisa saling routing)
show ip interface brief
! Cek status IP interface
show ip route
! Cek tabel routing
Topik 6 dari 15
6DHCP Server#
6.1DHCP Server pada Router#
Catatan
- Digunakan untuk memberikan IP address secara otomatis ke end-device
ip dhcp pool "nama_vlan"
! Membuat DHCP pool
network "ip_network" "subnet_mask"
! Mengatur network yang dilayani pool tsb
default-router "ip_router"
! Mengatur default gateway yang dibagikan ke client
dns-server 8.8.8.8
! Mengatur DNS server yang dibagikan ke client
ip dhcp excluded-address "ip_awal" "ip_akhir"
! Mengecualikan IP tertentu agar tidak dibagikan DHCP (mis. IP gateway/static device)
Penting
Konfigurasi ip dhcp excluded-address sebaiknya dibuat di global config SEBELUM membuat pool, agar gateway/IP static tidak ikut dibagikan ke client.
Topik 7 dari 15
7Akses Perangkat (Console, Telnet & SSH)#
7.1Telnet vs SSH#
Deskripsi
- Remote access
- cara mengakses/mengonfigurasi perangkat dari jarak jauh melalui jaringan, tanpa perlu kabel console langsung
Catatan
- Ada 2 protokol yang umum dipakai: Telnet dan SSH
Perbandingan Protokol
| Protokol | Keterangan |
|---|---|
| Telnet | Tidak aman — data (termasuk password) dikirim plain text, mudah disadap |
| SSH | Aman — data terenkripsi |
7.2Konfigurasi Telnet (Router/Switch)#
Catatan
- Pastikan password privileged mode sudah aktif sebelum mengaktifkan akses telnet
line vty 0 4
! Mengaktifkan line vty 0-4 (maksimal 5 sesi bersamaan, bisa sampai 15 tergantung device)
password "passwd"
! Mengatur password
login
! Mengaktifkan otentikasi password saat login telnet
transport input telnet
! Membatasi akses hanya via telnet (default: all)
login local
! (Opsional) memakai username & password lokal saat login, bukan password vty biasa
Penting
Jika memakai "login local", buat dulu user di global config: username "usrnme" secret "passwd".
7.3Konfigurasi SSH pada Router#
Catatan
- Pastikan password privileged mode sudah aktif
- Pastikan hostname sudah diganti (tidak default "Router")
ip domain-name "nama_domain"
! Mengatur nama domain (dibutuhkan untuk generate key)
crypto key generate rsa
! Membuat RSA key untuk enkripsi SSH (disarankan modulus 1024+)
line vty 0 4
! Mengaktifkan line vty 0-4
password "passwd"
! Mengatur password
login
! Mengaktifkan otentikasi password
transport input ssh
! Membatasi akses hanya via SSH
login local
! (Opsional) memakai username & password lokal
Penting
Jika memakai "login local", buat dulu user: username "usrnme" secret "passwd".
7.4Konfigurasi SSH pada Switch#
Catatan
- Switch (L2) tidak punya IP di setiap port, jadi IP manajemen diatur lewat SVI
- Pastikan password privileged mode sudah aktif dan hostname sudah diganti
interface vlan "no_vlan"
! Masuk ke interface VLAN manajemen (bebas, umumnya VLAN 1 atau VLAN khusus manajemen)
ip address "ip_addr" "subnet_mask"
! Mengatur IP switch (untuk manajemen)
exit
! Keluar dari interface
ip default-gateway "ip_router"
! Mengatur default gateway switch
ip domain-name "nama_domain"
! Mengatur nama domain
crypto key generate rsa
! Membuat RSA key
line vty 0 4
! Mengaktifkan line vty 0-4
password "passwd"
! Mengatur password
login
! Mengaktifkan otentikasi password
transport input ssh
! Membatasi akses hanya via SSH
login local
! (Opsional) memakai username & password lokal
7.5Password Console#
Catatan
- Console port adalah akses langsung ke perangkat memakai kabel fisik (bukan lewat jaringan) — biasanya dipakai saat konfigurasi pertama kali atau saat troubleshooting perangkat yang tidak bisa diakses via network
- Sebaiknya tetap diberi password meskipun akses fisik, untuk mencegah orang lain mengakses perangkat secara langsung
line console 0
! Masuk ke line console
password "passwd"
! Mengatur password
login
! Mengaktifkan otentikasi password saat akses via console
Topik 8 dari 15
8VLAN Trunking Protocol (VTP)#
8.1Konsep VTP#
Catatan
- Untuk membuat VLAN yang sama secara otomatis pada semua switch dalam 1 domain VTP
3 Mode VTP
| Mode | Keterangan |
|---|---|
| Server | Bisa membuat/mengubah/menghapus VLAN, perubahan diadvertise ke switch lain |
| Client | Mengikuti VLAN dari server, tidak bisa membuat VLAN sendiri |
| Transparent | Independen — tidak mengikuti VLAN server, tapi tetap meneruskan (forward) advertisement VTP |
8.2Konfigurasi VTP#
Catatan
- Konfigurasi VTP wajib dilakukan di atas link trunk, karena advertisement VTP dikirim melalui trunk antar switch
- vtp domain dan vtp password harus SAMA persis di semua switch dalam 1 domain agar bisa saling bertukar info VLAN
interface "no_port"
! Masuk ke interface yang terhubung ke switch lain
switchport mode trunk
! Mengatur interface tersebut menjadi mode trunk (wajib, VTP hanya berjalan di trunk)
vtp mode "vtp_mode"
! Mengatur mode VTP (server/client/transparent)
vtp domain "domain_name"
! Membuat nama domain VTP
vtp password "passwd"
! Mengatur password VTP
show vtp status
! Cek status VTP
8.3VTP Configuration Revision#
Deskripsi
- Configuration revision
- angka yang menunjukkan jumlah perubahan VLAN yang pernah dilakukan pada domain VTP
Catatan
- Jika switch baru dengan configuration revision LEBIH TINGGI dimasukkan ke jaringan, VLAN switch baru tsb akan menimpa (overwrite) VLAN pada seluruh domain — berisiko menghapus VLAN yang sudah ada
Penting
Solusi: sebelum menyambungkan switch baru ke jaringan produksi, ubah dulu mode-nya ke transparent lalu kembalikan ke server/client untuk me-reset configuration revision ke 0.
Topik 9 dari 15
9Port Security#
9.1Konsep Port Security#
Catatan
- Untuk mengamankan port/interface access pada switch
- Agar hanya komputer yang terdaftar (MAC address dikenal) yang boleh terhubung
Jenis Violation
| Violation | Keterangan |
|---|---|
| Shutdown (default) | Port langsung down (err-disabled), butuh shutdown/no shutdown manual untuk aktif lagi |
| Protect | Port tetap up, tapi menolak paket dari MAC tidak dikenal (tanpa counter violation & tanpa log) |
| Restrict | Port tetap up, tapi menolak paket dari MAC tidak dikenal (dengan counter violation & log) |
9.2Konfigurasi Port Security#
Catatan
- Port security hanya bisa diaktifkan pada port bermode access (bukan trunk)
- MAC address yang diizinkan bisa didaftarkan manual (mac-address) atau otomatis dari device pertama yang connect (sticky)
interface "no_port"
! Masuk ke interface yang akan diamankan
switchport mode access
! Mengatur interface menjadi mode access (port security hanya berlaku di access port)
switchport port-security
! Mengaktifkan port-security
switchport port-security mac-address "mac_addr"
! Menambahkan MAC address yang diizinkan secara manual
switchport port-security mac-address sticky
! Mengizinkan MAC address secara otomatis (device pertama yang connect)
switchport port-security maximum 1
! Membatasi jumlah MAC address/komputer yang diizinkan
switchport port-security violation "jenis_violation"
! Mengatur jenis violation (shutdown/protect/restrict)
show port-security interface "no_port"
! Cek status port security
Topik 10 dari 15
10Spanning Tree Protocol (STP)#
10.1Konsep STP#
Catatan
- Digunakan untuk memblokir jalur cadangan (redundant link) antar switch agar tidak terjadi looping saat mengirim frame
- Pada Cisco, STP aktif secara default dengan mode PVST+ — menjalankan instance STP terpisah untuk SETIAP VLAN (bukan hanya VLAN 1)
- Untuk menonaktifkan STP: no spanning-tree vlan 1 (tidak disarankan pada jaringan produksi karena berisiko broadcast storm bila ada loop)
10.2Root Bridge & Blocking Port#
Deskripsi
- Root Port
- pada non-root bridge, port dengan path cost menuju root bridge PALING RENDAH akan menjadi root port (selalu forwarding)
- Designated Port
- port pada tiap segment yang mengirimkan BPDU terbaik ke segment tsb — pada root bridge, semua port-nya adalah designated port (selalu forwarding)
Catatan
- Root Bridge dipilih berdasarkan: (1) Priority terendah (default 32768 — semakin kecil angkanya, semakin diprioritaskan), lalu jika seri (2) MAC address terkecil
- Path cost ditentukan oleh bandwidth link — semakin besar bandwidth, semakin kecil cost (jalur lebih disukai)
- Port yang bukan root port dan bukan designated port pada segmen yang sama akan menjadi blocking port (alternate port)
show spanning-tree
! Cek status root bridge, port role, dan port state
10.3Manipulasi Bandwidth (Path Cost)#
Catatan
- Digunakan untuk memanipulasi jalur mana yang dianggap tercepat (mempengaruhi pemilihan root port)
Cost Berdasarkan Bandwidth (802.1D short path cost)
| Bandwidth | Cost |
|---|---|
| 10 Mb | 100 |
| 100 Mb | 19 |
| 1 Gb | 4 |
| 10 Gb | 2 |
interface "no_port"
! Masuk ke interface yang akan dimanipulasi
speed "bandwidth"
! Mengatur bandwidth interface (mempengaruhi cost)
10.4Manipulasi Root Bridge#
Catatan
- Dilakukan dengan mengatur priority switch supaya lebih rendah dari switch lain
spanning-tree vlan 1 priority 24576
! Mengatur priority switch (harus kelipatan 4096: 0, 4096, 8192, …, 61440)
spanning-tree vlan 1 root primary
! Otomatis mengatur priority menjadi paling rendah di jaringan (jadi root bridge)
spanning-tree vlan 1 root secondary
! Menjadikan switch ini root bridge cadangan jika root primary down
no spanning-tree vlan 1 priority
! Menghapus konfigurasi priority (kembali ke default 32768)
10.5Per VLAN Spanning Tree (PVST+)#
Catatan
- Mengatur STP secara terpisah untuk masing-masing VLAN
- Tiap VLAN bisa memiliki root bridge dan blocking port yang berbeda-beda (load balancing antar link redundant)
10.6STP Port States & PortFast#
Catatan
- Setiap port yang baru terkoneksi akan melalui seluruh proses state di atas (total ±50 detik) sebelum bisa forwarding traffic
- Proses Listening dan Learning dibutuhkan oleh port yang terhubung ke switch lain (berpotensi membentuk loop) — baik port trunk maupun access. PortFast hanya aman dipakai pada port yang terhubung ke end-device (PC/server/printer)
Urutan Port State
| Urutan | Port State | Waktu (default) |
|---|---|---|
| 1 | Blocking | 20 detik (max age) |
| 2 | Listening | 15 detik |
| 3 | Learning | 15 detik |
| 4 | Forwarding | — |
interface "no_port"
! Masuk ke interface access yang mengarah ke end-device
spanning-tree portfast
! Mengaktifkan PortFast — port langsung ke Forwarding, skip Listening & Learning
Penting
PortFast hanya boleh diaktifkan pada access port ke end-device (PC/printer), JANGAN diaktifkan pada port menuju switch/router lain karena berisiko loop.
Topik 11 dari 15
11EtherChannel#
11.1Konsep EtherChannel#
Catatan
- Menggabungkan beberapa link fisik menjadi 1 link logical
- Tujuan: menambah bandwidth total, dan agar link tidak diblok oleh STP (dianggap 1 link, bukan redundant link)
3 Protokol EtherChannel
| Protokol | Keterangan |
|---|---|
| LACP (L2) | Open standard (IEEE 802.3ad) |
| PAgP (L2) | Cisco proprietary |
| Static (mode on) | Tidak ada negotiation protocol sama sekali — channel dipaksa terbentuk tanpa verifikasi otomatis, jadi risikonya config mismatch antar switch tidak akan ketahuan. Bisa dipakai di L2 (switchport) maupun L3 (routed, dengan no switchport) — bukan konsep khusus L3 |
Penting
L2 vs L3 EtherChannel ditentukan oleh ada/tidaknya "no switchport" pada interface port-channel, bukan oleh protokol yang dipakai untuk membentuknya — EtherChannel L3 juga bisa dibentuk pakai LACP atau PAgP, tidak harus static/mode on
11.2EtherChannel LACP (L2)#
Deskripsi
- LACP (Link Aggregation Control Protocol)
- protokol open standard (IEEE 802.3ad) untuk negosiasi pembentukan EtherChannel antar switch beda vendor
Catatan
- Kedua switch saling bernegosiasi lewat mode active/passive sebelum EtherChannel benar-benar terbentuk
Mode LACP
| Mode | Keterangan |
|---|---|
| Active | Aktif mengajak membentuk EtherChannel |
| Passive | Menunggu diajak |
interface range "sw_port_range"
! Masuk ke interface-interface yang akan dijadikan EtherChannel
switchport mode trunk
! Mengatur interface menjadi mode trunk
channel-group "number" mode active | passive
! Membuat EtherChannel dengan mode LACP
show etherchannel summary
! Cek ringkasan status EtherChannel
Penting
Kedua ujung link minimal salah satu harus 'active' — passive+passive tidak akan membentuk EtherChannel.
11.3EtherChannel PAgP (L2)#
Deskripsi
- PAgP (Port Aggregation Protocol)
- protokol Cisco proprietary (hanya jalan di sesama perangkat Cisco) untuk negosiasi pembentukan EtherChannel, fungsinya setara LACP
Catatan
- Kedua switch saling bernegosiasi lewat mode desirable/auto sebelum EtherChannel terbentuk
Mode PAgP
| Mode | Keterangan |
|---|---|
| Desirable | Aktif mengajak membentuk EtherChannel |
| Auto | Menunggu diajak |
interface range "sw_port_range"
! Masuk ke interface-interface yang akan dijadikan EtherChannel
switchport mode trunk
! Mengatur interface menjadi mode trunk
channel-group "number" mode desirable | auto
! Membuat EtherChannel dengan mode PAgP
show etherchannel summary
! Cek ringkasan status EtherChannel
11.4EtherChannel L3#
Catatan
- Hanya digunakan untuk membuat EtherChannel antar L3 switch/router (routed link, bukan switchport)
interface range "sw_port_range"
! Masuk ke interface-interface yang akan dijadikan EtherChannel
no switchport
! Menonaktifkan mode switchport agar interface bisa diberi IP address
channel-group "number" mode on
! Membuat EtherChannel L3 (static, tanpa negosiasi LACP/PAgP)
interface Port-channel "number"
! Masuk ke interface port-channel yang terbentuk
ip address "ip_addr" "subnet_mask"
! Memberikan IP address pada interface port-channel
show etherchannel summary
! Cek ringkasan status EtherChannel
Topik 12 dari 15
12Routing#
12.1Konsep Routing#
Catatan
- Digunakan untuk menghubungkan network yang berbeda
- Router mengarahkan packet berdasarkan tabel routing
- Jika network tujuan tidak ada di tabel routing, packet akan gagal dikirim (drop)
- Ada 2 jenis routing: Static Routing dan Dynamic Routing
show ip route
! Cek tabel routing
12.2Static Routing (kode: S)#
Catatan
- Tabel routing dibuat secara manual di setiap router
- Cocok dipakai jika topologi memiliki beberapa router; jika hanya 1 router, cukup pakai inter-VLAN routing (Bab 5)
interface "no_port"
! Masuk ke interface router
ip address "ip_addr" "subnet_mask"
! Mengatur IP address pada interface router
no shutdown
! Mengaktifkan interface
ip route "network_tujuan" "subnet_mask" "ip_gateway"
! Menambahkan network tujuan ke tabel routing (ip_gateway = IP router neighbor yang memiliki network tujuan tsb)
12.3Dynamic Routing#
Catatan
- Tabel routing dibuat otomatis dengan saling meng-copy tabel routing milik router neighbor
- Setiap router meng-advertise (mengumumkan) network yang dimilikinya agar bisa dipelajari router lain
4 Jenis Dynamic Routing Protocol
| Protokol | Keterangan |
|---|---|
| RIP | Sudah tidak digunakan lagi (distance vector lama, max 15 hop) |
| EIGRP | Cisco proprietary (advanced distance-vector) |
| OSPF | Open standard (link-state) |
| BGP | Open standard, khusus untuk menghubungkan antar Autonomous System (AS) |
12.4EIGRP (kode: D)#
Deskripsi
- EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol)
- dynamic routing protocol Cisco proprietary, tergolong advanced distance-vector
Catatan
- Menggunakan algoritma DUAL untuk mencari jalur terbaik dan menyediakan jalur backup tanpa loop, sehingga konvergensi (waktu update saat ada perubahan topologi) sangat cepat
- Metric (nilai untuk menentukan jalur terbaik) dihitung berdasarkan kombinasi bandwidth dan delay pada jalur tsb
router eigrp "as_number"
! Membuat proses EIGRP (as_number harus sama pada setiap router dalam 1 domain)
no auto-summary
! Mengatur EIGRP agar mendukung classless IP (subnet tidak diringkas otomatis)
network "ip_network" "subnet_mask"
! Meng-advertise network yang dimiliki router
show ip eigrp neighbor
! Cek koneksi dengan router neighbor
12.5OSPF (kode: O)#
Deskripsi
- OSPF (Open Shortest Path First)
- dynamic routing protocol open standard, tergolong link-state (setiap router punya peta topologi lengkap dari network di area-nya, bukan hanya tahu dari neighbor terdekat seperti distance-vector)
Catatan
- Menggunakan algoritma Dijkstra (SPF) untuk menghitung jalur terpendek/terbaik
- Metric berupa cost, dihitung berbanding terbalik dengan bandwidth interface (bandwidth besar → cost kecil → jalur lebih disukai)
- Wildcard mask adalah kebalikan dari subnet mask (0 = harus cocok, 1 = boleh berbeda) — dipakai di command network OSPF, contoh subnet mask 255.255.255.0 → wildcard mask 0.0.0.255
router ospf "process_id"
! Membuat proses OSPF (process_id bersifat lokal, boleh berbeda antar router)
network "ip_network" "wildcard_mask" area "area_number"
! Meng-advertise network yang dimiliki router
show ip ospf neighbor
! Cek koneksi dengan router neighbor
Penting
Jika memakai multi-area OSPF, wajib ada Area 0 sebagai backbone area — semua area lain harus terhubung ke Area 0.
12.6BGP (kode: B)#
Catatan
- OSPF dan EIGRP dipakai untuk routing internal dalam 1 Autonomous System (AS) — disebut IGP
- BGP dipakai untuk routing antar AS yang berbeda — disebut EGP, umum dipakai antar ISP/enterprise besar
router bgp "as_number"
! Membuat proses BGP (as_number = nomor AS milik router ini)
neighbor "neighbor_ip_addr" remote-as "neighbor_as_number"
! Mengkoneksikan ke router neighbor (dikonfigurasi di kedua sisi router)
network "ip_network" mask "subnet_mask"
! Meng-advertise network yang dimiliki
show ip bgp summary
! Cek koneksi dengan router neighbor
12.7IS-IS (kode: i)#
Deskripsi
- IS-IS (Intermediate System to Intermediate System)
- dynamic routing protocol link-state, awalnya dikembangkan untuk OSI/CLNS — versi Integrated IS-IS dipakai juga untuk routing IP, sama seperti OSPF menggunakan algoritma Dijkstra (SPF)
Catatan
- Kode routing IS-IS di routing table: i (dengan i L1 = intra-area, i L2 = inter-area)
- Menggunakan konsep Level, bukan Area seperti OSPF: Level 1 (routing dalam 1 area), Level 2 (routing antar area/backbone), Level 1-2 (router perbatasan yang menjalankan keduanya)
- Setiap router IS-IS diidentifikasi dengan NET (Network Entity Title), bukan router-id seperti OSPF — format umum: area-id.system-id.NSEL, contoh 49.0001.0000.0000.0001.00
- Metric default IS-IS = 10 per interface (statis, tidak otomatis mengikuti bandwidth seperti OSPF, meski bisa diubah manual)
router isis "tag"
! Membuat proses IS-IS
net "area_id.system_id.00"
! Mengatur NET (identitas unik router dalam area IS-IS)
exit
! Keluar dari mode router isis, kembali ke global config
interface "no_interface"
! Masuk ke interface yang ingin diikutkan ke IS-IS
ip router isis "tag"
! Mengaktifkan IS-IS pada interface tsb
show clns neighbors
! Cek koneksi dengan router neighbor IS-IS
show ip route isis
! Cek rute yang dipelajari lewat IS-IS
Topik 13 dari 15
13Access Control List (ACL)#
13.1Konsep Access List#
Catatan
- Berfungsi mirip firewall — mengatur perizinan traffic pada router
- Access list punya sequence number, diurutkan berdasarkan urutan pembuatan; sequence number PALING RENDAH dieksekusi lebih dulu (top-down, berhenti di match pertama)
- Secara default access-list men-deny SEMUA traffic (implicit deny di akhir), sehingga harus ditambahkan permit untuk traffic yang diizinkan
Mode Access List
| Mode | Fungsi |
|---|---|
| Deny | Memblokir traffic yang cocok dengan kondisi |
| Permit | Mengizinkan traffic yang cocok dengan kondisi |
| Remark | Menambahkan komentar/catatan pada ACL (tidak memengaruhi traffic) |
Jenis Access List
| Jenis | Range Nomor | Keterangan |
|---|---|---|
| Standard Access List | 1–99, 1300–1999 | Filter hanya berdasarkan source IP |
| Extended Access List | 100–199, 2000–2699 | Filter berdasarkan source IP, destination IP, protokol, dan port |
13.2Standard Access List (Numbered)#
Catatan
- Hanya bisa memfilter berdasarkan source packet (IP asal), tidak bisa berdasarkan destination/protocol
access-list "1-99" "acl_mode" "host/network/any"
! Membuat access list standard
show access-list "1-99"
! Cek konfigurasi access list
interface "port_number"
! Masuk ke interface router yang akan diterapkan ACL
ip access-group "1-99" "in/out"
! Menerapkan (embed) access list ke interface tersebut
show run interface "port_number"
! Cek ACL yang aktif di interface (hanya bisa di real device)
13.3Mengedit ACL dengan Sequence Number#
Catatan
- Dipakai untuk menyisipkan/menghapus 1 baris ACL tanpa perlu membuat ulang seluruh access list
ip access-list standard "acl_name/number"
! Masuk ke mode edit access list
"sequence_number" "acl_mode" "host/network/any"
! Menyisipkan/mengganti baris pada urutan tertentu
no "sequence_number"
! Menghapus baris tertentu tanpa menghapus seluruh access list
13.4Standard Access List (Named)#
Catatan
- Sama seperti standard ACL numbered, tapi diberi nama (bukan angka) agar lebih mudah dibaca/diingat maksudnya
- Isi/aturan ACL langsung dimasukkan dari dalam mode edit ACL dengan sequence number, tanpa command 'access-list' terpisah
ip access-list standard "acl_name"
! Membuat access list standard dengan nama
"sequence_number" "acl_mode" "host/network/any"
! Membuat isi access list
interface "port_number"
! Masuk ke interface router
ip access-group "acl_name" "in/out"
! Menerapkan (embed) access list ke interface
13.5Extended Access List#
Catatan
- Bisa memfilter berdasarkan protocol, source, DAN destination packet — lebih spesifik dari standard ACL
access-list "100-199" "acl_mode" "protocol" "source" "destination" (eq "port_number")
! Membuat access list extended (source/destination: any/host/network)
show access-list "100-199"
! Cek konfigurasi access list
interface "port_number"
! Masuk ke interface router
ip access-group "100-199" "in/out"
! Menerapkan (embed) access list ke interface
show run interface "port_number"
! Cek ACL yang aktif di interface (hanya bisa di real device)
Penting
Extended ACL juga bisa dibuat dengan nama (named), caranya sama seperti Standard Named ACL di atas menggunakan: ip access-list extended "acl_name".
Topik 14 dari 15
14Network Address Translation (NAT)#
14.1Konsep NAT#
Catatan
- Menerjemahkan (translate) IP Private menjadi IP Public agar dapat dimengerti dan dirouting oleh router ISP di internet
- Ada 3 jenis NAT: Static NAT (1 private → 1 public tetap), Dynamic NAT (banyak private → pool IP public), dan PAT / NAT Overload (banyak private → 1 IP public, dibedakan lewat nomor port)
14.2Dynamic NAT (dengan Overload / PAT)#
Catatan
- Menerjemahkan banyak IP Private menjadi 1 IP Public (Port Address Translation)
ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 "isp_router_ip"
! Membuat default route pada router menuju ISP
access-list "1-99" permit "network" "wildcard_mask"
! Membuat access list untuk network yang akan di-NAT (ulangi untuk tiap network)
ip nat inside source list "1-99" interface "int_number" overload
! Menerjemahkan semua IP private jadi IP router pada interface ke arah ISP (overload = PAT, banyak ke satu)
interface "int_number"
! Masuk ke interface ke arah ISP
ip nat outside
! Menetapkan interface tersebut sebagai sisi outside (luar/internet)
interface "int_number"
! Masuk ke interface ke arah network/VLAN internal
ip nat inside
! Menetapkan interface tersebut sebagai sisi inside (dalam/lokal)
14.3Static NAT#
Catatan
- Menerjemahkan 1 IP Private menjadi 1 IP Public tetap (one-to-one)
ip nat inside source static "ip_private" "ip_public"
! Memetakan 1 IP private ke 1 IP public secara tetap
interface "int_number"
! Masuk ke interface ke arah network/VLAN internal
ip nat inside
! Menetapkan interface sebagai sisi inside
Penting
Jika ISP merutekan beberapa IP public ke 1 interface fisik outside, tambahkan tiap IP public tersebut sebagai secondary address pada interface outside: "ip address <ip_public> <subnet_mask> secondary", agar router bisa menjawab ARP untuk tiap IP public yang dipakai static NAT — hanya relevan di real device, tidak selalu didukung penuh di simulator.
Topik 15 dari 15
15IPv6#
15.1Konsep IPv6#
Catatan
- Hadir karena ketersediaan alamat IPv4 sudah hampir habis
- Terdiri dari 128 bit, dipisah tiap 16 bit dengan tanda titik dua (:)
- IPv4 masih tetap digunakan berdampingan dengan IPv6 saat ini (dual-stack)
15.2Kompresi Penulisan Alamat IPv6#
Catatan
- Jika ada angka 0 di bagian depan tiap grup 16-bit, boleh dihilangkan
- Contoh: 2001:0db8:0be0:75a2:0000:0000:0000:0001 → 2001:db8:be0:75a2:0:0:0:1
- Jika ada beberapa grup berurutan bernilai 0, bisa disingkat jadi '::' (hanya boleh dipakai SEKALI dalam 1 alamat)
- Contoh: 2001:db8:be0:75a2:0:0:0:1 → 2001:db8:be0:75a2::1
Penting
Jika ada 2 kelompok grup nol di tempat berbeda, '::' hanya boleh dipakai untuk salah satu — sisanya ditulis sebagai '0' biasa, agar alamat tetap bisa diuraikan dengan pasti.
15.3Tipe Alamat IPv6#
Deskripsi
- Link Local
- otomatis dimiliki tiap interface, hanya berlaku di 1 segmen lokal (tidak bisa dirouting)
- Global Unicast
- alamat yang bisa dirouting di internet, setara dengan IP Public pada IPv4
- Unique Local
- alamat privat untuk jaringan internal, setara dengan IP Private pada IPv4, tidak dirouting di internet
Catatan
- Setiap alamat IPv6 punya tipe/scope tertentu yang menentukan lingkup pemakaiannya
Tipe & Range
| Tipe | Range/Prefix |
|---|---|
| Link Local | FE80::/10 |
| Global Unicast (setara IP Public) | 2000::/3 |
| Unique Local (setara IP Private) | FC00::/7 |
| Multicast | FF00::/8 |
| Loopback | ::1/128 |
| Unspecified Address | ::/128 |
15.4Prefix IPv6#
Catatan
- Sama seperti IPv4, prefix pada IPv6 menunjukkan berapa bit awal dari alamat yang dipakai sebagai network ID
- Karena IPv6 punya total 128 bit (jauh lebih banyak dari IPv4 yang 32 bit), range prefix yang mungkin juga jauh lebih besar (0-128)
Perbandingan Prefix IPv4 vs IPv6
| Versi | Range Prefix | Contoh |
|---|---|---|
| IPv4 | 0-32 | /24 → 24 bit pertama adalah network |
| IPv6 | 0-128 | /64 → 64 bit pertama adalah network |
15.5Konfigurasi Dasar IPv6#
Catatan
- Langkah paling dasar untuk mengaktifkan IPv6 pada 1 interface, sebelum melakukan konfigurasi routing apapun
interface "int_number"
! Masuk ke interface yang akan diberi alamat IPv6
ipv6 address "ip_addr"/"prefix"
! Mengatur alamat IPv6 pada interface
no shutdown
! Mengaktifkan interface
show ipv6 route
! Cek tabel routing IPv6
Penting
Aktifkan 'ipv6 unicast-routing' secara global di router sebelum melakukan konfigurasi routing IPv6 apapun (static maupun dynamic).
15.6IPv6 Static Routing#
Catatan
- Konsepnya sama persis dengan static routing IPv4 (Bab 12.2) — tabel routing dibuat manual, hanya beda format alamat dan command
ipv6 unicast-routing
! Mengaktifkan fungsi routing IPv6 secara global (wajib)
ipv6 route "network_tujuan/prefix" "ip_gateway"
! Menambahkan network tujuan ke tabel routing IPv6
15.7IPv6 OSPF Routing#
Deskripsi
- OSPFv3
- versi OSPF yang mendukung IPv6, konsep dasarnya (link-state, area, cost) sama dengan OSPF versi IPv4 (Bab 12.5)
Catatan
- Bedanya, network yang di-advertise diatur langsung di tiap interface (bukan lewat command 'network' di router config)
ipv6 router ospf "process_id"
! Membuat proses OSPFv3 (process_id boleh berbeda antar router)
router-id 10.10.10.1
! Mengatur router-id (format seperti IP, wajib berbeda tiap router, bukan alamat IP sungguhan)
interface "int_number"
! Masuk ke interface yang akan di-advertise
ipv6 ospf "process_id" area "area_number"
! Meng-advertise network pada interface tersebut
15.8IPv6 EIGRP Routing#
Deskripsi
- EIGRP untuk IPv6
- konsep dasarnya (DUAL, metric bandwidth+delay) sama dengan EIGRP IPv4 (Bab 12.4)
Catatan
- Bedanya, network yang di-advertise diatur langsung di tiap interface, dan proses EIGRP IPv6 tidak aktif otomatis — wajib diaktifkan manual dengan 'no shutdown'
ipv6 router eigrp "as_number"
! Membuat proses EIGRP IPv6 (as_number harus sama pada setiap router)
eigrp router-id 10.10.10.1
! Mengatur router-id (wajib berbeda tiap router, bukan alamat IP sungguhan)
no shutdown
! Mengaktifkan proses EIGRP IPv6 (wajib, berbeda dari EIGRP IPv4 yang aktif otomatis)
interface "int_number"
! Masuk ke interface yang akan di-advertise
ipv6 eigrp "as_number"
! Meng-advertise network pada interface tersebut