Catatan F5 BIG-IP (LTM & DNS)
Ringkasan Materi & Referensi Konfigurasi Local Traffic Manager dan BIG-IP DNS
🔒
Simulasi Ujian
Bank soal ISC2 CC, F5 201 & HCIA-Security — latihan dengan pembahasan, dikunci password, terenkripsi AES-256
Topik 1 dari 15
1Pengenalan F5 BIG-IP & Konsep ADC#
1.1Application Delivery Controller (ADC)#
Definisi
- ADC
- Application Delivery Controller, perangkat yang mengatur pengiriman aplikasi/service dari server ke client — bukan sekadar membagi traffic, tapi juga mengoptimasi, mengamankan, dan menjaga ketersediaannya
- Load balancer
- fungsi paling dasar dari ADC, yaitu membagi request client ke beberapa server supaya beban merata dan tidak ada single point of failure
- F5 BIG-IP
- platform ADC dari F5 yang menjalankan TMOS, dengan fitur jauh di atas load balancer biasa (SSL offload, persistence, iRules, WAF, akses remote, GSLB)
- Content switching
- kemampuan ADC mengarahkan client ke pool server yang berbeda berdasarkan isi request — misalnya user Android diarahkan ke pool web server Android dan user iOS ke pool iOS, berdasarkan header User-Agent
Catatan
- Availability: BIG-IP terus memantau kesehatan server lewat health monitor, dan otomatis berhenti mengirim traffic ke server yang mati sebelum client sempat merasakan error
- Scalability: menambah kapasitas layanan cukup dengan menambah pool member baru, tanpa mengubah alamat yang diakses client (virtual server tetap sama)
Kenapa ADC lebih dari sekadar load balancer
| Fungsi ADC | Manfaat di BIG-IP |
|---|---|
| Load balancing | Membagi koneksi ke banyak server dengan metode static/dynamic |
| Health monitoring | Menandai server yang gagal merespons dan mengeluarkannya dari rotasi |
| SSL offload | Proses enkripsi/dekripsi TLS dipindah dari server ke BIG-IP, server jadi ringan |
| Persistence | Menjaga satu client tetap ke server yang sama selama sesi berjalan |
| Caching & compression | Mengurangi beban server dan mempercepat respons ke client |
| Traffic steering (iRules/policy) | Mengarahkan request ke pool berbeda berdasarkan URI, header, atau IP sumber |
| Security | SNAT/topology hiding, packet filter, dan modul tambahan seperti ASM & AFM |
1.2TMOS & Modul-Modul BIG-IP#
Definisi
- TMOS
- Traffic Management Operating System, sistem operasi BIG-IP yang menangani seluruh traffic — semua modul berjalan di atasnya dan berbagi resource yang sama
- TMM
- Traffic Management Microkernel, proses inti TMOS yang benar-benar memproses paket data plane (bukan kernel Linux-nya), sehingga performanya tinggi dan deterministik
- Provisioning
- proses mengaktifkan modul dan mengalokasikan CPU/memori untuk modul tersebut — modul yang tidak di-provision tidak muncul menunya, dan lisensi tetap harus mengizinkan modul itu
- Partition
- pembagian administratif objek konfigurasi (default /Common) supaya beberapa tim/tenant bisa memakai satu BIG-IP tanpa saling mengganggu
Lima modul BIG-IP yang berjalan di atas TMOS
| Modul | Nama Lengkap | Fungsi Utama |
|---|---|---|
| LTM | BIG-IP Local Traffic Manager | Load balancing lokal: pool, virtual server, profile, iRules, SSL offload |
| DNS | BIG-IP DNS (dulu bernama GTM) | GSLB — mengarahkan user ke data center terbaik lewat jawaban DNS |
| ASM | BIG-IP Application Security Manager | Web Application Firewall: proteksi OWASP Top 10, bot defense, L7 DoS |
| APM | BIG-IP Access Policy Manager | Kontrol akses, SSL VPN, SSO, dan integrasi MFA/identity provider |
| AFM | BIG-IP Advanced Firewall Manager | Network firewall L3/L4 stateful, DDoS protection, IP intelligence |
Penting
Menambah modul tidak menambah kapasitas hardware. Provisioning LTM + ASM + APM sekaligus di satu BIG-IP VE kecil akan saling berebut CPU/RAM — cek dulu resource yang dibutuhkan tiap modul sebelum di-provision di lab maupun produksi.
1.3Full Proxy vs Packet Forwarding#
Definisi
- Full proxy
- BIG-IP memutus koneksi jadi dua — koneksi client ke BIG-IP, dan koneksi terpisah BIG-IP ke server — sehingga BIG-IP bisa membaca, mengubah, dan mengoptimasi traffic di kedua sisi secara independen
- Packet-based forwarding
- perangkat hanya meneruskan paket apa adanya (seperti router), tidak punya visibilitas penuh ke sesi aplikasi
Catatan
- Konsekuensi full proxy: BIG-IP bisa melakukan SSL offload, HTTP header rewrite, OneConnect, caching, dan iRules di layer 7 — hal yang mustahil kalau paket cuma diteruskan
- Dua sisi TCP: parameter TCP client-side dan server-side bisa berbeda (misal window size besar ke server di LAN, dan profil TCP mobile-friendly ke client di internet)
1.4Bentuk Platform BIG-IP#
Pilihan platform BIG-IP
| Bentuk | Keterangan | Cocok Untuk |
|---|---|---|
| Hardware (iSeries/rSeries) | Appliance fisik dengan hardware SSL/FPGA offload | Data center produksi dengan throughput tinggi |
| BIG-IP VE (Virtual Edition) | Image virtual (VMware, Hyper-V, KVM) dengan lisensi berbasis throughput | Lab, cloud privat, dan produksi skala menengah |
| vCMP | Hypervisor F5 yang membelah satu appliance jadi beberapa guest BIG-IP terisolasi | Multi-tenant di satu perangkat fisik |
| Cloud marketplace | BIG-IP VE di AWS/Azure/GCP dengan model BYOL atau hourly | Aplikasi yang sudah pindah ke cloud publik |
| BIG-IP Next | Generasi baru berbasis Kubernetes dengan Central Manager | Deployment modern yang API-first |
Topik 2 dari 15
2Persiapan Lab & Base Configuration#
2.1Topologi & Setting Jaringan VMware#
Catatan
- Tujuan lab: mensimulasikan client di jaringan external, BIG-IP sebagai gateway layanan, dan beberapa web server di jaringan internal, semuanya di satu laptop lewat VMware/VirtualBox
- Interface BIG-IP VE: NIC pertama selalu dipakai untuk management (mgmt), NIC berikutnya menjadi interface data plane 1.1, 1.2, 1.3 dan seterusnya
- Urutan NIC penting: kalau urutan adapter di VMware tertukar, VLAN yang dibuat akan menempel di segmen yang salah — cocokkan dulu daftar adapter dengan interface di menu Network >> Interfaces
Pemetaan adapter untuk lab BIG-IP VE
| Interface | Segmen VMware | Peran |
|---|---|---|
| mgmt | VMnet host-only | Akses GUI/SSH administrator, tidak melewatkan traffic aplikasi |
| 1.1 | VMnet external | VLAN external — tempat virtual server diakses client |
| 1.2 | VMnet internal | VLAN internal — arah pool member / web server |
| 1.3 | VMnet HA | VLAN HA — config sync & failover ke BIG-IP kedua |
Penting
Management interface benar-benar terpisah dari data plane. Traffic aplikasi tidak boleh lewat mgmt, dan sebaliknya route default yang dipakai virtual server bukan management route. Salah menaruh gateway di management route adalah penyebab klasik virtual server tidak bisa keluar ke internet.
2.2Akses Awal & Default Credential#
Kredensial bawaan BIG-IP VE
| Akses | Username | Password Default |
|---|---|---|
| CLI (console/SSH) | root | default |
| GUI (Configuration Utility) | admin | admin |
Definisi
- Configuration Utility
- nama resmi GUI BIG-IP, diakses lewat https://<ip-management> dengan user admin
Catatan
- Console vs SSH: konfigurasi IP management pertama kali dilakukan lewat console VM, karena SSH belum bisa dipakai sebelum alamat management terpasang
- Ganti password: password default wajib diganti begitu perangkat bisa diakses — di versi baru BIG-IP bahkan memaksa penggantian password saat login pertama
Konfigurasi awal lewat CLI
config
# Membuka utilitas teks untuk mengatur IP management, netmask, dan default route management
tmsh modify sys global-settings mgmt-dhcp disabled
# Mematikan DHCP di management supaya alamatnya tetap
tmsh list sys management-ip
# Memastikan alamat management sudah terpasang
tmsh modify auth user admin password <password-baru>
# Mengganti password admin dari CLI
save sys config
# Menyimpan konfigurasi supaya tidak hilang saat reboot
Penting
Saat ditanya default route di utilitas config, isi hanya jika management memang perlu keluar jaringan. Untuk lab, jawab "no" — routing untuk traffic aplikasi diatur terpisah di Network >> Routes.
2.3Licensing, Provisioning & Platform Setting#
Definisi
- Dossier
- berkas identitas unik hasil generate BIG-IP yang berisi informasi hardware/VE, dipakai untuk menukar registration key menjadi lisensi
- Registration key
- kode lisensi dari F5 yang menentukan modul apa saja dan throughput berapa yang boleh diaktifkan
- Service check date
- tanggal kontrak support di lisensi; software yang dirilis setelah tanggal itu tidak bisa diaktifkan meski lisensinya masih valid
- Platform setting
- menu System >> Platform untuk mengatur hostname, time zone, kebijakan password, serta port dan protokol akses management — bisa diubah kapan saja tanpa menjalankan wizard apa pun
Catatan
- Aktivasi automatic: BIG-IP menghubungi server lisensi F5 langsung (butuh internet dari management)
- Aktivasi manual: dossier di-copy ke activate.f5.com lewat browser lain, lalu hasil lisensinya di-paste balik — cara ini dipakai di lab tanpa internet
Alur lisensi & provisioning
1
System › License › Activate
Memulai proses lisensi dan memasukkan registration key
2
Manual › Copy dossier
Menyalin dossier untuk ditukar di portal aktivasi F5
3
activate.f5.com › Paste dossier
Menghasilkan license key dari portal F5
4
Paste license › Next
Menempelkan lisensi ke BIG-IP; sistem restart layanan sebentar
5
System › Resource Provisioning
Mengaktifkan modul yang dipakai (mis. LTM Nominal, DNS Nominal)
6
System › Platform
Mengatur hostname, time zone, dan kebijakan password/SSH management
Penting
Setelah lisensi masuk dan modul di-provision, BIG-IP me-restart daemon konfigurasi. GUI sempat tidak bisa diakses satu-dua menit — itu normal, jangan langsung reboot paksa.
Topik 3 dari 15
3Konfigurasi Jaringan Dasar (VLAN, Self IP & Route)#
3.1Interface & VLAN#
Definisi
- VLAN di BIG-IP
- objek layer 2 yang mengikat satu atau beberapa interface; semua objek layer 3 (self IP, virtual server) selalu menempel pada VLAN
- Untagged
- satu interface dipakai untuk satu VLAN saja — dipakai di lab dan pada koneksi ke akses port switch
- Tagged
- satu interface membawa banyak VLAN dengan tag 802.1Q — dipakai kalau port fisik terbatas atau BIG-IP tersambung ke trunk switch
- Trunk (BIG-IP)
- istilah F5 untuk link aggregation (LACP) beberapa interface fisik jadi satu link logis — beda arti dengan trunk di Cisco
- VLAN group
- menggabungkan dua VLAN supaya BIG-IP bertindak seperti bridge di layer 2, biasanya untuk deployment tanpa mengubah IP existing
Membuat VLAN
1
Network › VLANs › VLAN List › Create
Membuat VLAN baru, satu per satu (external, internal, HA)
2
Isi Name, Tag (opsional)
Tag hanya diisi kalau memakai 802.1Q tagging
3
Resources › Interfaces › pilih interface › Untagged › Add
Menempelkan interface fisik ke VLAN
4
Network › VLANs › VLAN List
Memastikan tiap VLAN sudah punya interface yang benar
3.2Self IP: Static & Floating#
Definisi
- Self IP
- alamat IP milik BIG-IP di sebuah VLAN — dipakai sebagai sumber health monitor, sebagai gateway bagi server, dan sebagai alamat SNAT automap
- Static self IP
- alamat unik milik satu unit BIG-IP, tidak berpindah saat failover
- Floating self IP
- alamat bersama yang mengikuti unit Active — inilah yang dipakai sebagai default gateway server dalam pasangan HA, supaya tetap hidup setelah failover
- Port lockdown
- kontrol port apa saja yang boleh diakses ke self IP itu sendiri — Allow None (paling aman, default untuk self IP data), Allow Default (protokol layanan tertentu), atau Allow Custom
- Traffic group
- floating self IP selalu diikat ke traffic group (default traffic-group-1) yang menentukan unit mana yang memilikinya saat itu
Membuat self IP
1
Network › Self IPs › Create
Membuat self IP untuk tiap VLAN
2
Isi Name, IP Address, Netmask, VLAN
Menentukan alamat BIG-IP pada VLAN tersebut
3
Traffic Group: traffic-group-local-only
Untuk self IP statis milik unit itu sendiri
4
Traffic Group: traffic-group-1 (floating)
Untuk self IP floating yang berpindah saat failover
5
Port Lockdown: Allow None / Allow Custom
Membatasi akses ke self IP; buka 22 & 443 hanya bila perlu remote management
Penting
Health monitor keluar dari self IP di VLAN yang menuju pool member. Kalau self IP internal salah subnet atau port lockdown terlalu ketat untuk monitor tertentu, semua pool member akan terlihat merah walaupun servernya sehat.
3.3Routing#
Definisi
- Default route data plane
- route 0.0.0.0/0 ke gateway di VLAN external — dipakai oleh traffic aplikasi, terpisah dari management route
- Static route
- route ke subnet tertentu lewat gateway tertentu, dipakai kalau ada beberapa subnet server di belakang router internal
- Management route
- route khusus untuk interface mgmt, tidak pernah dipakai TMM untuk traffic aplikasi
Catatan
- Gateway pool: alih-alih satu alamat gateway, route bisa diarahkan ke pool berisi beberapa gateway supaya jalur keluar ikut dimonitor dan punya cadangan
Membuat default route
1
Network › Routes › Add
Menambahkan route baru untuk traffic aplikasi
2
Destination 0.0.0.0, Netmask 0.0.0.0
Membuat default route
3
Resource: Use Gateway › isi alamat gateway external
Menentukan next hop ke arah client/internet
4
Network › Routes
Memastikan route sudah terdaftar dan VLAN-nya benar
3.4Dukungan IPv6#
Definisi
- IPv6 di BIG-IP
- didukung native dan cara konfigurasinya sama persis dengan IPv4 — yang berubah hanya format alamatnya
- Self IP IPv6
- self IP dengan alamat IPv6 beserta prefix-nya (mis. /64) yang dipasang di VLAN yang sama seperti self IP IPv4
- Default route IPv6
- route ::/0 yang diarahkan ke gateway IPv6 di VLAN external, terpisah dari default route IPv4
Catatan
- Dual-stack: satu VLAN boleh punya self IP IPv4 dan IPv6 sekaligus, sehingga BIG-IP melayani client dari kedua jenis alamat
- Virtual server IPv6: setelah self IP dan route IPv6 siap, virtual server tinggal dibuat dengan destination beralamat IPv6
Self IP dan default route IPv6
1
Network › Self IPs › Create
Membuat self IP dengan alamat IPv6 di VLAN yang dibutuhkan
2
IP Address: 2001:db8::1, Netmask: /64, VLAN: external
Mengisi alamat IPv6 beserta prefix dan VLAN-nya
3
Network › Routes › Add
Menambahkan default route untuk IPv6
4
Destination ::/0, Resource: Use Gateway (alamat IPv6 gateway)
Menentukan next hop IPv6
5
Local Traffic › Virtual Servers › Create (destination IPv6)
Membuat virtual server yang diakses client lewat alamat IPv6
Topik 4 dari 15
4Node, Pool, Pool Member & Health Monitor#
4.1Terminologi Dasar#
Definisi
- Node
- alamat IP server fisik/virtual di belakang BIG-IP, tanpa nomor port
- Pool member
- kombinasi node + service port, misalnya 10.10.10.11:80 — satu node bisa jadi beberapa pool member dengan port berbeda
- Pool
- kumpulan pool member yang melayani satu layanan, lengkap dengan metode load balancing dan health monitor-nya
- Virtual server
- alamat IP + port yang diakses client, yang kemudian meneruskan traffic ke pool
Catatan
- Hubungan objek: client mengakses virtual server, virtual server memilih pool, pool memilih pool member berdasarkan metode load balancing dan status monitor
Rantai objek dari node sampai virtual server
| Objek | Contoh | Status Dipengaruhi Oleh |
|---|---|---|
| Node | 10.10.10.11 | Monitor level node (mis. icmp/gateway_icmp) |
| Pool member | 10.10.10.11:80 | Monitor level pool (mis. http) dan status node-nya |
| Pool | pool_web_http | Jumlah member yang up dan aturan availability-nya |
| Virtual server | 10.10.20.100:80 | Status pool yang dipakainya |
4.2Membuat Node & Pool#
Alur GUI membuat node dan pool
1
Local Traffic › Nodes › Node List › Create
Membuat node satu per satu berdasarkan IP server
2
Isi Name & Address, pilih Health Monitor
Monitor level node biasanya icmp untuk cek server hidup
3
Local Traffic › Pools › Pool List › Create
Membuat pool untuk satu layanan
4
Health Monitors: pilih http/https/tcp
Menentukan cara BIG-IP menguji kesehatan layanan
5
Load Balancing Method
Menentukan cara member dipilih (default Round Robin)
6
New Members › Address + Service Port › Add
Menambahkan pool member; node yang belum ada akan otomatis dibuat
7
Local Traffic › Pools › Pool List › Members
Memastikan seluruh member berstatus hijau
Objek yang sama lewat tmsh
tmsh create ltm node node_web1 address 10.10.10.11
# Membuat node dari CLI
tmsh create ltm pool pool_web_http members add { 10.10.10.11:80 10.10.10.12:80 } monitor http
# Membuat pool sekaligus member dan monitornya
tmsh modify ltm pool pool_web_http load-balancing-mode least-connections-member
# Mengubah metode load balancing
tmsh show ltm pool pool_web_http
# Melihat status pool dan tiap member
save sys config
# Menyimpan perubahan
4.3Health Monitor#
Definisi
- Health monitor
- pengujian berkala dari BIG-IP ke node/pool member untuk menentukan apakah resource itu layak menerima traffic
- Address check
- monitor yang hanya menguji alamat (icmp, gateway_icmp) — cocok di level node
- Service check
- monitor yang menguji layanan di port tertentu (tcp, http, https) — dipasang di level pool
- Content check
- monitor http/https dengan send string dan receive string, sehingga server dianggap sehat hanya bila isi responsnya benar (bukan sekadar port terbuka)
- Interval
- jarak antar pengujian, default 5 detik
- Timeout
- batas waktu sebelum resource dinyatakan down, aturan umumnya (3 × interval) + 1 detik
Catatan
- Monitor kustom: selalu dibuat dengan cara meng-copy monitor bawaan (misal http) lalu diubah, karena monitor bawaan tidak bisa diedit langsung
Jenis monitor yang sering dipakai
| Monitor | Menguji | Catatan |
|---|---|---|
| icmp / gateway_icmp | Balasan ping ke alamat node | Paling ringan, tidak membuktikan layanan hidup |
| tcp | 3-way handshake ke port layanan | Membuktikan port terbuka, bukan aplikasinya benar |
| tcp_half_open | SYN lalu RST tanpa menyelesaikan handshake | Lebih ringan untuk server dengan koneksi padat |
| http / https | Request HTTP dengan send/receive string | Paling akurat untuk web, bisa cek isi halaman & status code |
| external | Script buatan sendiri | Untuk aplikasi yang tidak tercakup monitor bawaan |
| inband | Perilaku traffic asli (bukan probe terpisah) | Menandai member down setelah sejumlah kegagalan nyata |
Send String: GET /health.html HTTP/1.1\r\nHost: app.local\r\nConnection: close\r\n\r\n
→ Halaman khusus health check, bukan halaman utama yang berat
Receive String: ^HTTP/1.1 200
→ Server sehat hanya bila mengembalikan status 200
Receive Disable String: MAINTENANCE
→ Member ditandai disabled (bukan down) saat aplikasi masuk mode maintenance
Interval: 5 Timeout: 16
→ Mengikuti aturan (3 × interval) + 1
Penting
Pool member yang tidak punya monitor sama sekali akan berstatus biru (unknown) dan tetap dikirimi traffic. Ini berbahaya: BIG-IP menganggap server hidup tanpa pernah memverifikasinya.
4.4Status Indicator (Level, Bentuk & Warna)#
Definisi
- Tiga level objek
- ikon status muncul di level virtual server, pool, dan pool member — ketiganya memakai simbol yang sama, tapi sumber statusnya berbeda
- Status pool member
- satu-satunya level yang diukur langsung — hasil health monitor di member (dan status node-nya) digabung dengan status administratif member itu
- Status pool
- diturunkan dari member-nya: hijau bila minimal satu member available, merah bila seluruh member down, kuning bila member yang tersisa sedang tidak menerima koneksi baru (mis. kena connection limit), biru bila member-nya tidak punya monitor sama sekali
- Status virtual server
- diturunkan dari pool yang dipakainya: hijau bila pool available, merah bila pool offline, kuning bila sedang kena batas koneksi, dan biru bila status pool tidak diketahui atau virtual server memang tidak punya pool (mis. forwarding virtual server)
- Node
- induk dari pool member — status node ditentukan monitor level node, dan men-disable node membuat seluruh pool member yang memakainya berubah abu-abu
- Bentuk ikon
- menunjukkan hasil health monitor terhadap objek — lingkaran, wajik, kotak, atau segitiga
- Warna ikon
- menunjukkan status administratif objek — berwarna berarti enabled, hitam berarti di-disable manual oleh admin, abu-abu berarti di-disable oleh objek induknya
- Disabled by parent
- objek yang dimatikan bukan oleh dirinya sendiri, melainkan karena objek induk/terkaitnya di-disable — mis. pool member jadi abu-abu karena node-nya di-disable, atau virtual server jadi abu-abu karena virtual address-nya di-disable
Catatan
- Dua dimensi terpisah: satu ikon selalu menggabungkan keduanya, jadi "wajik abu-abu" berarti monitor-nya gagal DAN objek induknya sedang disabled — bukan status tersendiri
- Abu-abu ada di semua bentuk: lingkaran, kotak, segitiga, maupun wajik. Bentuknya tetap mengikuti hasil monitor terakhir; yang berubah cuma warnanya, sebagai tanda penyebabnya ada di objek lain
Sumber status di tiap level objek
| Level | Status Ditentukan Oleh | Aturan Ringkas |
|---|---|---|
| Node | Monitor level node (mis. icmp) + status admin node | Node down membuat seluruh pool member yang memakai alamat itu ikut down; node di-disable membuat member-nya abu-abu |
| Pool member | Monitor level pool + status node + status admin member | Satu-satunya level yang benar-benar diuji; di sinilah troubleshooting dimulai |
| Pool | Gabungan status seluruh member-nya | Hijau bila ada minimal satu member available; merah bila semua member down; biru bila member tidak punya monitor |
| Virtual server | Status pool yang dipakainya + status admin virtual server | Ikut merah bila pool-nya offline; biru bila tidak punya pool atau status pool tidak diketahui |
Level virtual server — status ikut pool + status admin virtual server
| Ikon | Status | Arti & Penyebab |
|---|---|---|
| Available (Enabled) | Pool-nya punya minimal satu member available — virtual server melayani koneksi normal | |
| Offline (Enabled) | Seluruh member pool-nya down; koneksi client diterima lalu langsung di-reset | |
| Unknown (Enabled) | Tidak punya default pool (mis. forwarding virtual server) atau member pool-nya tidak punya monitor | |
| Temporarily Unavailable | Batas koneksi virtual server tercapai, atau pool-nya sementara tidak menerima koneksi baru | |
| Available (Disabled) | Di-disable admin padahal pool-nya sehat — koneksi baru langsung di-reset tanpa menambah statistik | |
| Offline (Disabled) | Di-disable admin saat pool-nya juga sedang down | |
| Available (Disabled by parent) | Virtual address-nya di-disable, atau seluruh pool member di-session-disable, walau layanannya sendiri sehat | |
| Offline (Disabled by parent) | Virtual address disabled dan pool-nya juga sedang down |
Level pool — tidak punya monitor & tombol disable sendiri, statusnya murni turunan dari member
| Ikon | Status | Arti & Penyebab |
|---|---|---|
| Available | Minimal satu member berstatus available | |
| Offline | Seluruh member down karena monitor gagal | |
| Unknown | Member-nya tidak punya monitor sama sekali, jadi kesehatannya tidak pernah diuji | |
| Temporarily Unavailable | Member yang tersisa sedang kena connection limit; bisa pulih tanpa campur tangan admin | |
| Available (Disabled by parent) | Seluruh member sehat tapi di-disable admin, sehingga pool ikut dianggap dimatikan dari atas | |
| Offline (Disabled by parent) | Seluruh member down dan yang terakhir ditandai down adalah member yang di-disable admin |
Level pool member — satu-satunya level yang diukur langsung oleh monitor
| Ikon | Status | Arti & Penyebab |
|---|---|---|
| Available (Enabled) | Monitor sukses — member menerima koneksi sesuai metode load balancing | |
| Offline (Enabled) | Monitor gagal dalam timeout; member dikeluarkan dari rotasi | |
| Unknown (Enabled) | Tidak ada monitor di member maupun node-nya — tetap dikirimi traffic tanpa pernah diverifikasi | |
| Temporarily Unavailable | Connection limit member tercapai; tidak menerima koneksi baru sampai turun lagi | |
| Available (Disabled) | Di-disable admin padahal monitornya sukses — koneksi baru hanya lewat record persistence | |
| Unknown (Disabled) | Di-disable admin dan memang tidak punya monitor | |
| Offline (Force Offline) | Di-force offline admin, atau di-disable saat monitornya sedang gagal — hanya menyelesaikan koneksi aktif | |
| Available (Disabled by parent) | Node-nya yang di-disable, bukan member ini — monitornya sendiri masih sukses | |
| Offline (Disabled by parent) | Node disabled dan monitor member-nya juga gagal | |
| Unknown (Disabled by parent) | Node disabled dan member ini tidak punya monitor |
Penting
Beda Disabled, Force Offline, dan Disabled by parent: Disabled (hitam) masih menerima koneksi baru dari client yang punya record persistence; Force Offline (wajik hitam) hanya menyelesaikan koneksi aktif; sedangkan abu-abu bukan tindakan pada objek itu — cari objek induknya (node, pool, atau virtual address) yang sedang disabled, karena di situlah masalahnya harus dibereskan.
Penting
Karena status menurun dari bawah ke atas (member → pool → virtual server), virtual server yang merah hampir tidak pernah bermasalah pada dirinya sendiri. Telusuri dari bawah: cek monitor pool member dulu, baru status pool, baru virtual server-nya.
Penting
Beda perilaku di sisi client: virtual server yang di-disable langsung me-reset koneksi tanpa menambah statistik, sedangkan virtual server yang enabled tapi pool-nya offline tetap menerima koneksi lebih dulu baru di-reset — dan statistiknya bertambah. Ini cara cepat membedakan "dimatikan admin" dari "pool-nya mati".
Penting
Pool tidak punya health monitor sendiri dan tidak punya tombol Enable/Disable seperti virtual server atau pool member. Karena itu ikon hitam tidak pernah muncul di level pool — yang muncul abu-abu, sebagai efek dari seluruh member-nya yang di-disable.
Topik 5 dari 15
5Virtual Server#
5.1Konsep Virtual Server#
Definisi
- Virtual server
- kombinasi alamat IP dan port yang diakses client, dan menjadi titik masuk semua traffic aplikasi di BIG-IP
- Virtual address
- bagian alamat IP dari virtual server; satu virtual address bisa dipakai banyak virtual server dengan port berbeda (80, 443, dan seterusnya)
- Default pool
- pool yang dituju virtual server bila tidak ada iRule/policy yang mengarahkan ke pool lain
- Resources
- bagian virtual server tempat memasang iRules, policy, dan default pool
- Network Map
- tampilan ringkas seluruh objek (virtual server, pool, member) beserta statusnya dalam satu layar — cara tercepat melihat apa yang merah
Membuat virtual server standar
1
Local Traffic › Virtual Servers › Create
Membuat virtual server baru
2
Type: Standard, Destination Address & Service Port
Alamat yang akan diakses client, mis. 10.10.20.100:80
3
Protocol Profile & HTTP Profile
TCP untuk layer 4, http bila butuh fitur layer 7
4
Source Address Translation
Automap atau SNAT pool bila server tidak memakai BIG-IP sebagai gateway
5
Resources › Default Pool
Menghubungkan virtual server ke pool
6
Local Traffic › Network Map
Memastikan seluruh rantai objek hijau
5.2Tipe Virtual Server#
Tipe virtual server di LTM
| Tipe | Fungsi | Kapan Dipakai |
|---|---|---|
| Standard | Full proxy, memutus koneksi client dan server | Mayoritas kasus: HTTP/HTTPS, persistence, iRules L7 |
| Performance (Layer 4) | Fast L4, memakai akselerasi dan tidak memproses payload L7 | Throughput tinggi tanpa kebutuhan inspeksi aplikasi |
| Performance (HTTP) | Fast HTTP, gabungan client/server side yang ringan | Web sederhana dengan kebutuhan performa, fitur L7 terbatas |
| Forwarding (IP) | Meneruskan traffic seperti router tanpa pool | Memberi jalan server keluar internet lewat BIG-IP |
| Forwarding (Layer 2) | Meneruskan di layer 2 antar VLAN group | Deployment transparan/bridge |
| Reject | Menolak traffic yang cocok | Memblokir tujuan tertentu secara eksplisit |
| Stateless | UDP tanpa menyimpan connection table | Traffic UDP masif satu arah, mis. syslog |
| DHCP Relay | Meneruskan DHCP antar subnet | Client dan DHCP server beda VLAN |
5.3IP Forwarding Virtual Server#
Definisi
- IP forwarding virtual server
- virtual server tanpa pool yang membuat BIG-IP meneruskan paket seperti router — dipakai supaya server internal bisa mengakses internet lewat BIG-IP
- Wildcard virtual server
- destination 0.0.0.0/0 dengan service port 0 (All Ports), sehingga cocok untuk semua tujuan
Catatan
- Butuh SNAT: agar paket balasan dari internet kembali lewat BIG-IP, biasanya virtual server ini dipasangi Source Address Translation Automap
- VLAN restriction: batasi virtual server ini hanya pada VLAN internal (Enabled on VLAN) supaya tidak menjadi pintu terbuka dari sisi external
Membuat jalan keluar internet untuk server
1
Local Traffic › Virtual Servers › Create
Membuat virtual server baru
2
Type: Forwarding (IP)
Memilih mode forwarding, bukan standard
3
Destination: Network 0.0.0.0/0, Service Port: 0 (All Ports)
Wildcard untuk semua tujuan
4
VLAN and Tunnel Traffic: Enabled on internal
Membatasi sumber traffic hanya dari VLAN internal
5
Source Address Translation: Automap
Menyamarkan IP server dengan self IP external
5.4Virtual Server Order of Precedence#
Definisi
- Order of precedence
- urutan prioritas BIG-IP memilih virtual server mana yang menangani sebuah koneksi ketika ada beberapa yang cocok
Catatan
- Urutan penilaian: destination address paling spesifik terlebih dahulu, lalu source address, baru service port
- Prinsip utama: yang paling spesifik menang — /32 mengalahkan /24, dan /24 mengalahkan wildcard 0.0.0.0/0
- Wildcard sebagai jaring pengaman: virtual server wildcard hanya menangani traffic yang tidak cocok dengan virtual server manapun yang lebih spesifik
Urutan pemilihan virtual server
| Prioritas | Kriteria | Contoh Menang |
|---|---|---|
| 1 | Destination address paling spesifik | 10.10.20.100/32 mengalahkan 10.10.20.0/24 |
| 2 | Source address paling spesifik | Source 192.168.1.0/24 mengalahkan source 0.0.0.0/0 |
| 3 | Service port cocok | Port 80 spesifik mengalahkan port 0 (All Ports) |
Penting
Cara menguji di lab: buat beberapa virtual server yang saling tumpang tindih, masing-masing dengan satu pool member berbeda, lalu lihat member mana yang menerima koneksi. Statistik per virtual server (Local Traffic >> Virtual Servers >> Statistics) langsung menunjukkan yang mana yang menang.
Topik 6 dari 15
6Metode Load Balancing#
6.1Static Load Balancing#
Definisi
- Static load balancing
- pemilihan member berdasarkan aturan tetap tanpa melihat kondisi server saat itu
- Round Robin
- metode default, giliran merata satu per satu ke seluruh member yang up
- Ratio
- member dengan ratio lebih besar menerima proporsi koneksi lebih banyak — dipakai bila spesifikasi server tidak sama
Catatan
- Ratio (Node) vs Ratio (Member): ratio bisa diatur di level node (berlaku untuk semua pool yang memakai node itu) atau di level pool member (hanya berlaku di pool tersebut)
- Reset statistics: statistik pool perlu di-reset sebelum pengujian supaya distribusi koneksi terbaca bersih
Mengatur dan menguji ratio
1
Local Traffic › Nodes › Node List › pilih node › Ratio
Mengatur ratio di level node
2
Local Traffic › Pools › pilih pool › Members › pilih member › Ratio
Mengatur ratio di level pool member
3
Local Traffic › Pools › pilih pool › Members › Load Balancing Method: Ratio (Node/Member)
Memilih metode ratio yang sesuai dengan level tempat ratio diatur
4
Local Traffic › Pools › pilih pool › Statistics › Reset
Mengosongkan statistik sebelum pengujian
5
Refresh halaman aplikasi berkali-kali, lalu lihat Statistics
Memastikan proporsi koneksi sesuai ratio
Penting
Ratio (Node) tidak berpengaruh kalau metode pool-nya diset Ratio (Member), dan sebaliknya. Ini penyebab paling sering ratio "tidak terasa" saat diuji.
6.2Dynamic Load Balancing#
Definisi
- Dynamic load balancing
- pemilihan member berdasarkan kondisi real-time seperti jumlah koneksi aktif atau kecepatan respons
- Least Connections
- mengirim koneksi baru ke member dengan koneksi aktif paling sedikit — pilihan aman untuk aplikasi dengan durasi sesi bervariasi
- Fastest
- memilih member dengan respons layer 7 tercepat (jumlah request outstanding paling sedikit)
- Observed
- menggabungkan jumlah koneksi dan performa historis menjadi ratio dinamis
- Predictive
- seperti Observed, tetapi memberi bobot lebih pada member yang performanya sedang membaik
Catatan
- Varian Node vs Member: sama seperti ratio, metode dinamis punya versi node (menghitung seluruh koneksi ke node) dan versi member (hanya koneksi di pool itu)
Perbandingan metode load balancing
| Metode | Dasar Keputusan | Cocok Untuk |
|---|---|---|
| Round Robin | Giliran merata | Server seragam, request seragam |
| Ratio | Bobot manual | Server dengan spesifikasi berbeda |
| Least Connections | Jumlah koneksi aktif | Durasi sesi tidak seragam |
| Fastest | Respons L7 tercepat | Aplikasi web yang sensitif latency |
| Observed | Koneksi + performa historis | Beban yang fluktuatif |
| Predictive | Tren performa | Beban fluktuatif dengan server yang naik-turun performanya |
6.3Priority Group Activation#
Definisi
- Priority group
- nilai prioritas pada tiap pool member — member dengan angka lebih besar dilayani lebih dulu
- Less than
- ambang batas jumlah member aktif; member dengan prioritas lebih rendah baru diaktifkan bila member aktif di grup prioritas tinggi turun di bawah ambang ini
Catatan
- Pola pemakaian: server utama diberi priority 10 dan server cadangan priority 1, dengan activation "less than 2" sehingga cadangan hanya dipakai saat server utama tersisa satu
- Kombinasi dengan load balancing: di dalam satu priority group, distribusi tetap mengikuti metode load balancing pool
Konfigurasi priority group
1
Local Traffic › Pools › Pool List › pilih pool › Members › pilih member › Priority Group
Memberi nilai prioritas tiap member
2
Local Traffic › Pools › Pool List › pilih pool › Members › Priority Group Activation: Less than N
Menentukan ambang aktivasi grup prioritas berikutnya
3
Local Traffic › Pools › Pool List › pilih pool › Members › Load Balancing Method
Menentukan distribusi di dalam grup prioritas
4
Local Traffic › Pools › pilih pool › Statistics › Reset
Mengosongkan statistik sebelum pengujian
5
Matikan server prioritas tinggi satu per satu
Menguji kapan member cadangan mulai menerima traffic
Topik 7 dari 15
7Address Translation: DNAT, SNAT & NAT#
7.1Destination NAT (DNAT)#
Definisi
- Destination NAT
- penerjemahan alamat tujuan dari alamat virtual server menjadi alamat pool member yang dipilih
Catatan
- Otomatis: DNAT terjadi dengan sendirinya pada virtual server standard — tidak ada yang perlu dikonfigurasi
- Kaitan dengan full proxy: karena BIG-IP membuka koneksi baru ke server, alamat tujuan paket sisi server memang harus alamat server, bukan alamat virtual server
- Jalur balik: paket balasan dari server harus melewati BIG-IP lagi supaya alamat sumbernya dikembalikan menjadi alamat virtual server — inilah alasan server harus memakai BIG-IP sebagai gateway, atau memakai SNAT
7.2Source NAT (SNAT)#
Definisi
- SNAT
- mengubah alamat sumber paket menuju server menjadi alamat milik BIG-IP, supaya paket balasan pasti kembali ke BIG-IP
- Automap
- SNAT memakai self IP BIG-IP di VLAN arah server (self IP floating bila ada) — paling praktis, tanpa objek tambahan
- SNAT Pool
- kumpulan alamat khusus yang dipakai sebagai alamat sumber — dipakai bila butuh banyak alamat untuk menghindari kehabisan port
Catatan
- Kapan SNAT wajib: saat server tidak memakai BIG-IP sebagai default gateway, saat one-arm mode, dan saat client berada di subnet yang sama dengan server
- Efek samping: server hanya melihat alamat BIG-IP sebagai client, sehingga log server kehilangan IP asli — solusinya menyisipkan header X-Forwarded-For lewat HTTP profile
- Port exhaustion: satu alamat SNAT terbatas sekitar 64.000 port per tujuan; untuk traffic sangat padat gunakan SNAT pool dengan beberapa alamat
Konfigurasi SNAT
1
Local Traffic › Address Translation › SNAT Pool List › Create
Membuat SNAT pool dan mengisi daftar alamatnya
2
Local Traffic › Virtual Servers › pilih virtual server
Membuka virtual server yang akan memakai SNAT
3
Source Address Translation: Automap
Memakai self IP BIG-IP sebagai alamat sumber
4
Source Address Translation: SNAT › pilih SNAT pool
Memakai alamat dari SNAT pool yang sudah dibuat
5
Local Traffic › Profiles › Services › HTTP › Insert X-Forwarded-For: Enabled
Mengembalikan informasi IP asli client untuk log server
7.3SNAT vs Objek NAT#
Beda SNAT dan objek NAT
| Aspek | SNAT | NAT (objek NAT di BIG-IP) |
|---|---|---|
| Arah | Umumnya outbound (dari client/BIG-IP ke server) | Dua arah, satu-ke-satu antara alamat publik dan privat |
| Pemetaan | Banyak alamat ke satu/lebih alamat (many-to-one/few) | Satu ke satu (one-to-one) |
| Port | Mengubah port sumber (PAT) | Tidak mengubah port |
| Dipakai untuk | Menjamin jalur balik lewat BIG-IP | Memberi server alamat publik tetap untuk inbound dan outbound |
| Lokasi konfigurasi | Virtual server atau objek SNAT | Local Traffic >> Address Translation >> NAT List |
Topik 8 dari 15
8Profiles#
8.1Konsep Profile#
Definisi
- Profile
- kumpulan setting yang bisa dipakai ulang dan ditempelkan ke virtual server, sehingga perilaku traffic diatur lewat objek, bukan lewat konfigurasi per virtual server
- Parent profile
- setiap profile diturunkan dari profile bawaan (mis. tcp, http) — profile anak hanya menyimpan nilai yang diubah, sisanya mengikuti induk
Catatan
- Perubahan induk menurun: mengubah nilai di parent profile otomatis berlaku ke seluruh profile anak yang tidak meng-override nilai tersebut
- Kategori profile: protocol (tcp, udp, fastL4), services (http, ftp, dns), persistence, SSL (client-ssl, server-ssl), authentication, dan others (OneConnect, stream)
- Aturan praktis: jangan pernah mengubah profile bawaan — selalu buat turunannya dan pasang yang turunan itu ke virtual server
Membuat dan memasang profile
1
Local Traffic › Profiles › pilih kategori › Create
Membuat profile baru dengan memilih parent profile
2
Centang kolom Custom pada nilai yang ingin diubah
Hanya nilai bercentang yang lepas dari induknya
3
Local Traffic › Virtual Servers › pilih VS › Properties
Menempelkan profile ke virtual server
4
Local Traffic › Virtual Servers › Statistics
Memastikan efek profile terlihat pada traffic
8.2Persistence Profile#
Definisi
- Persistence
- memastikan client yang sama tetap diarahkan ke pool member yang sama selama sesinya, penting untuk aplikasi yang menyimpan session di server (keranjang belanja, login)
- Cookie persistence
- BIG-IP menyisipkan cookie berisi identitas pool member — paling akurat untuk HTTP dan tidak membebani memori BIG-IP
- Source address affinity
- berbasis IP client, dipakai bila aplikasi bukan HTTP; kelemahannya banyak client di belakang satu NAT akan menempel ke satu server
- SSL persistence
- memakai SSL session ID, berguna untuk traffic terenkripsi yang tidak di-decrypt BIG-IP
- Universal persistence
- memakai nilai apa pun yang diambil iRule (mis. JSESSIONID, username) sebagai kunci persistence
- Fallback persistence
- metode cadangan yang dipakai bila metode utama tidak bisa diterapkan (mis. client menolak cookie)
Catatan
- Persistence mengalahkan load balancing: bila record persistence masih berlaku, BIG-IP mengabaikan metode load balancing dan langsung memakai member lama
Pilihan persistence
| Jenis | Kunci Persistence | Catatan |
|---|---|---|
| Cookie | Cookie yang disisipkan BIG-IP | Default untuk HTTP; butuh HTTP profile |
| Source Address Affinity | IP client | Bekerja untuk semua protokol; distribusi bisa timpang |
| Destination Address Affinity | IP tujuan | Umum untuk cache/proxy farm |
| SSL | SSL session ID | Untuk HTTPS tanpa dekripsi di BIG-IP |
| Universal / Hash | Nilai dari iRule atau hasil hash | Paling fleksibel, butuh iRule |
| SIP / RDP | Call-ID / username | Untuk aplikasi VoIP dan remote desktop |
Memasang persistence
1
Local Traffic › Profiles › Persistence › Create
Membuat persistence profile dari parent yang sesuai
2
Local Traffic › Virtual Servers › pilih VS › Resources › Default Persistence Profile
Memasang persistence ke virtual server
3
Fallback Persistence Profile: source_addr
Menyiapkan cadangan bila cookie tidak bisa dipakai
4
Local Traffic › Pools › pilih pool › Statistics
Memastikan client tetap menempel ke member yang sama
8.3OneConnect#
Definisi
- OneConnect
- fitur yang memakai ulang koneksi TCP ke server untuk melayani request dari banyak client, sehingga server tidak perlu melakukan three-way handshake berulang
- Source mask
- menentukan seberapa longgar koneksi boleh dipakai ulang — 0.0.0.0 berarti koneksi boleh dipakai lintas client (paling efisien), 255.255.255.255 membatasi per-client
Catatan
- Manfaat: mengurangi jumlah koneksi dan beban CPU di server, serta memangkas latensi karena koneksi sudah terbuka
- Syarat: virtual server harus memakai HTTP profile agar BIG-IP bisa memisahkan tiap request di dalam satu koneksi
- Hati-hati: aplikasi yang mengaitkan autentikasi ke koneksi TCP (mis. NTLM) bisa bocor antar user bila mask terlalu longgar — gunakan profile NTLM atau mask ketat
Mengaktifkan OneConnect
1
Local Traffic › Profiles › Other › OneConnect › Create
Membuat OneConnect profile dan mengatur source mask
2
Local Traffic › Virtual Servers › pilih VS › OneConnect Profile
Memasang profile ke virtual server
3
Local Traffic › Pools › pilih pool › Statistics
Membandingkan jumlah koneksi server sebelum dan sesudah OneConnect
8.4SSL Profile & SSL Offload#
Definisi
- Client SSL profile
- profile yang membuat BIG-IP menjadi ujung TLS bagi client — di sinilah sertifikat dan private key server dipasang
- Server SSL profile
- profile yang membuat BIG-IP mengenkripsi ulang traffic ke pool member
- SSL offload
- hanya memakai client SSL profile; traffic ke server berjalan HTTP polos sehingga beban enkripsi server hilang
- SSL bridging
- memakai client SSL dan server SSL sekaligus — BIG-IP tetap bisa membaca traffic (untuk iRules/WAF) tetapi jalur ke server tetap terenkripsi
- SSL passthrough
- tidak ada SSL profile sama sekali, BIG-IP hanya meneruskan traffic terenkripsi dan kehilangan visibilitas layer 7
Catatan
- Redirect HTTP ke HTTPS: dilakukan dengan virtual server port 80 yang memakai iRule redirect atau policy bawaan
Menyiapkan HTTPS di BIG-IP
1
System › Certificate Management › Traffic Certificate Management › SSL Certificate List › Import
Mengunggah sertifikat dan private key server
2
Local Traffic › Profiles › SSL › Client › Create
Membuat client SSL profile dan memilih certificate + key (chain bila ada)
3
Local Traffic › Virtual Servers › Create (port 443)
Membuat virtual server HTTPS dengan HTTP profile tetap terpasang
4
SSL Profile (Client): pilih profile yang dibuat
Menempelkan sertifikat ke virtual server
5
SSL Profile (Server): serverssl (opsional)
Dipakai bila memilih SSL bridging, bukan offload
Penting
Pada SSL offload, pool member tetap mendengarkan di port 80 sementara virtual server melayani 443. Salah menyamakan port pool dengan port virtual server adalah kesalahan paling umum saat pertama kali memasang SSL profile.
Topik 9 dari 15
9iRules & Local Traffic Policy#
9.1Konsep iRules#
Definisi
- iRules
- script berbasis TCL yang dijalankan BIG-IP terhadap traffic, dipakai untuk membuat logika yang tidak tersedia di menu GUI
- Event-driven
- iRule tidak berjalan terus-menerus, tetapi dipicu event seperti CLIENT_ACCEPTED, HTTP_REQUEST, atau HTTP_RESPONSE
Catatan
- Ruang lingkup: iRule dipasang di virtual server lewat menu Resources dan hanya berlaku untuk traffic virtual server tersebut
- Urutan eksekusi: bila ada beberapa iRule di satu virtual server, urutannya mengikuti daftar di Resources dan bisa diatur
- Biaya performa: iRule sederhana sangat ringan, tetapi logika berat (regex kompleks, loop besar) di setiap request bisa memakan CPU
Event iRule yang sering dipakai
| Event | Kapan Dipicu | Contoh Pemakaian |
|---|---|---|
| CLIENT_ACCEPTED | Koneksi TCP client diterima | Memilih pool berdasarkan IP sumber |
| HTTP_REQUEST | Header request HTTP lengkap diterima | Routing berdasarkan URI, host, atau User-Agent |
| HTTP_RESPONSE | Header response dari server diterima | Menambah/menghapus header, menyisipkan cookie |
| LB_SELECTED | Pool member sudah dipilih | Logging member yang terpilih |
| CLIENTSSL_HANDSHAKE | Handshake TLS client selesai | Memeriksa cipher atau sertifikat client |
9.2Contoh iRule#
when HTTP_REQUEST {
→ Dipicu setiap request HTTP masuk
HTTP::redirect "https://[HTTP::host][HTTP::uri]"
→ Mengarahkan client ke alamat HTTPS yang sama
}
when HTTP_REQUEST {
→ Memeriksa tiap request sebelum pool dipilih
set ua [string tolower [HTTP::header User-Agent]]
→ Mengambil User-Agent dan menormalkannya jadi huruf kecil
if { $ua contains "android" } {
→ Client Android
pool pool_web_android
→ Diarahkan ke pool server Android
} elseif { $ua contains "iphone" or $ua contains "ipad" } {
→ Client iOS
pool pool_web_ios
→ Diarahkan ke pool server iOS
} else {
→ Selain itu
pool pool_web_default
→ Memakai pool default (desktop)
}
}
Memasang iRule (skenario mobile)
1
Local Traffic › iRules › iRule List › Create
Menulis iRule dan menyimpannya (sintaks divalidasi saat disimpan)
2
Local Traffic › Virtual Servers › pilih VS › Resources › Manage (iRules)
Menempelkan iRule ke virtual server
3
Atur urutan iRule bila lebih dari satu
Menentukan iRule mana yang dievaluasi lebih dulu
4
Buat 3 pool berisi satu member untuk pengujian
Memudahkan memastikan client diarahkan ke pool yang benar
9.3Local Traffic Policy#
Definisi
- Local Traffic Policy
- cara membuat aturan kondisi-aksi lewat GUI tanpa menulis TCL, mencakup sebagian besar kebutuhan routing L7 sehari-hari
- Draft & publish
- policy diedit dalam bentuk draft, lalu di-publish agar aktif — memudahkan perubahan terkontrol
Catatan
- Struktur: policy berisi rules, tiap rule punya conditions (mis. URI starts-with /api) dan actions (mis. forward to pool_api)
- Kapan pilih policy: gunakan policy untuk aturan sederhana yang mudah diaudit, dan iRule untuk logika yang benar-benar butuh pemrograman
Topik 10 dari 15
10Mode Deployment: Two-Arm & One-Arm#
10.1Two-Arm (Routed Mode)#
Definisi
- Two-arm mode
- BIG-IP berada di antara client dan server dengan VLAN external dan internal terpisah — mode paling umum dan paling mudah ditelusuri
Catatan
- Gateway server: pool member memakai floating self IP internal BIG-IP sebagai default gateway, sehingga paket balasan otomatis lewat BIG-IP
- Tanpa SNAT: karena jalur balik sudah dijamin routing, SNAT tidak wajib dan server tetap melihat IP asli client
- Isolasi: server berada di segmen terpisah, hanya bisa diakses lewat virtual server — bonus keamanan
10.2One-Arm Mode#
Definisi
- One-arm mode
- BIG-IP hanya punya satu kaki di jaringan — client, virtual server, dan server berada di subnet yang sama
Catatan
- Masalah jalur balik: tanpa perlakuan khusus, server akan membalas langsung ke client karena satu subnet, sehingga koneksi gagal (asymmetric routing)
- Solusi SNAT: dengan SNAT automap, server melihat BIG-IP sebagai client dan pasti membalas ke BIG-IP; DNAT tetap berjalan seperti biasa
- Kelebihan: mudah disisipkan ke jaringan existing tanpa mengubah alamat atau gateway server
- Kekurangan: server kehilangan IP asli client (perlu X-Forwarded-For), dan seluruh traffic bolak-balik lewat satu interface
Menyiapkan one-arm mode
1
Buat VLAN & self IP tunggal
Semua objek berada di satu segmen jaringan
2
Local Traffic › Pools › Create
Pool member berada di subnet yang sama dengan virtual server
3
Local Traffic › Virtual Servers › Create
Alamat virtual server ikut berada di subnet yang sama
4
Source Address Translation: Automap
Wajib, supaya paket balasan server kembali ke BIG-IP
5
HTTP Profile › Insert X-Forwarded-For: Enabled
Mengembalikan IP asli client untuk kebutuhan log aplikasi
10.3nPath / Direct Server Return#
Definisi
- nPath (DSR)
- mode di mana request masuk lewat BIG-IP tetapi balasan dikirim server langsung ke client tanpa melewati BIG-IP
Catatan
- Kegunaan: traffic keluar yang sangat besar (streaming, download) sehingga BIG-IP tidak menjadi bottleneck
- Syarat: alamat virtual server harus dipasang di loopback tiap server dan ARP dimatikan untuk alamat itu
- Konsekuensi: BIG-IP kehilangan visibilitas response, sehingga fitur layer 7 (kompresi, iRule pada response, WAF) tidak bisa dipakai
Topik 11 dari 15
11High Availability & Device Service Clustering#
11.1Konsep FT & HA#
Definisi
- Fault tolerance
- kemampuan sistem tetap beroperasi ketika salah satu komponennya gagal, tanpa gangguan yang terasa oleh pengguna
- High availability
- rancangan yang menjaga layanan tetap tersedia dengan meminimalkan waktu tidak layan, umumnya lewat redundansi perangkat
- Active/Standby
- satu unit melayani traffic, unit lain siaga dan mengambil alih saat terjadi failover — konfigurasi paling umum
- Active/Active
- kedua unit melayani traffic sekaligus lewat traffic group yang berbeda, dengan syarat masing-masing sanggup menanggung beban penuh saat salah satunya jatuh
- Failover
- proses berpindahnya kepemilikan traffic group (beserta floating IP-nya) dari unit yang gagal ke unit pasangannya
Komponen Device Service Clustering
| Komponen DSC | Fungsi |
|---|---|
| Device Trust | Saling percaya antar unit lewat pertukaran sertifikat device |
| Device Group | Kumpulan unit yang menyinkronkan konfigurasi (sync-failover atau sync-only) |
| Traffic Group | Kumpulan objek floating (floating self IP, virtual address, SNAT) yang berpindah bersama saat failover |
| Floating Self IP | Alamat gateway server yang selalu berada di unit Active |
| Config Sync | Menyalin konfigurasi dari satu unit ke seluruh anggota device group |
| Network Failover | Deteksi kegagalan lewat heartbeat antar unit (unicast/multicast) |
| MAC Masquerade | MAC virtual yang ikut berpindah agar ARP client tidak perlu di-refresh — mempercepat failover |
11.2Prasyarat & Device Connectivity#
Definisi
- ConfigSync address
- alamat self IP yang dipakai khusus untuk mengirim konfigurasi antar unit (biasanya self IP di VLAN HA), diatur di Device Connectivity
- Failover address
- alamat yang dipakai untuk heartbeat failover — unicast bila hanya dua unit, multicast bila anggotanya banyak
- Mirroring address
- alamat primary (dan opsional secondary) yang dipakai menyalin state koneksi ke unit pasangan; wajib diisi sebelum connection/persistence mirroring bisa jalan
Catatan
- Prasyarat: kedua unit harus punya lisensi, provisioning modul, versi software, hostname, VLAN/self IP, dan routing yang sudah benar sebelum HA dibentuk
- Waktu harus sinkron: perbedaan waktu antar unit membuat pertukaran sertifikat device trust dan config sync gagal — set NTP di kedua unit lebih dulu
- Jalur HA terpisah: ConfigSync, failover, dan mirroring sebaiknya lewat VLAN HA tersendiri supaya tidak terganggu traffic aplikasi
- Failover redundan: selain jalur HA, tambahkan alamat management sebagai failover unicast kedua supaya satu kabel putus tidak langsung dianggap unit mati (split brain)
Device Connectivity di tiap unit
1
Device Management › Devices › pilih device (Self) › ConfigSync
Memilih self IP HA sebagai Local Address untuk config sync
2
Device Management › Devices › Failover Network › Add
Menambahkan alamat failover unicast (self IP HA, lalu alamat management sebagai cadangan)
3
Multicast: Enabled (opsional)
Dipakai bila anggota device group lebih dari dua
4
Device Management › Devices › Mirroring
Mengisi Primary Local Mirror Address (dan Secondary bila ada)
5
Ulangi langkah 1-4 di unit pasangan
Kedua unit harus punya alamat connectivity-nya sendiri
11.3Device Trust#
Definisi
- Device trust
- hubungan saling percaya antar BIG-IP yang dibangun dengan pertukaran sertifikat device, dan menjadi syarat sebelum device group bisa dibuat
- Trust domain
- kumpulan device yang sudah saling percaya (default: /Common/Root), berisi seluruh unit yang boleh saling menyinkronkan konfigurasi
- Peer authority
- peran device yang ditambahkan ke trust domain — subordinate untuk anggota biasa, authority untuk device yang boleh ikut mengesahkan anggota baru
Catatan
- Arah penambahan: cukup lakukan dari satu unit — masukkan alamat management unit pasangan beserta username/password admin-nya, lalu sertifikat ditukar otomatis
- Reset trust: bila device trust rusak (mis. sertifikat kedaluwarsa atau perangkat diganti), unit dikeluarkan dari trust domain lalu ditambahkan ulang, bukan diperbaiki sebagian
Membentuk device trust
1
Device Management › Device Trust › Device Trust Members › Add
Memulai penambahan unit pasangan ke trust domain
2
Isi IP management, username, dan password unit pasangan
BIG-IP menghubungi peer untuk menukar sertifikat device
3
Retrieve Device Information › Device Certificate Matches › Finished
Memverifikasi sertifikat peer sebelum dipercaya
4
Device Management › Devices
Memastikan kedua unit muncul dan statusnya terhubung
11.4Device Group & Traffic Group#
Definisi
- Device group
- kumpulan device dalam satu trust domain yang menyinkronkan konfigurasi satu sama lain
- Sync-Failover
- tipe device group yang menyinkronkan konfigurasi sekaligus menyediakan failover lewat traffic group — dipakai untuk pasangan Active/Standby
- Sync-Only
- tipe device group yang hanya menyinkronkan konfigurasi tanpa failover, mis. untuk menyamakan konfigurasi antar BIG-IP DNS
- Automatic sync
- opsi device group yang mendorong perubahan ke seluruh anggota secara otomatis; bila dimatikan, sync harus dijalankan manual setiap ada perubahan
- Full sync
- opsi yang mengirim seluruh konfigurasi setiap kali sync, bukan hanya bagian yang berubah — lebih aman tapi lebih berat
- Traffic group
- kumpulan objek floating (floating self IP, virtual address, SNAT translation) yang berpindah bersama ke unit lain saat failover
- MAC masquerade
- alamat MAC virtual milik traffic group yang ikut berpindah saat failover, sehingga client dan switch tidak perlu menunggu ARP diperbarui
Catatan
- Active/Standby vs Active/Active: satu traffic group berarti hanya satu unit yang aktif; dua traffic group yang dipegang unit berbeda membuat keduanya sama-sama melayani traffic
- Auto failback: traffic group bisa diatur agar kembali ke unit favoritnya setelah unit itu pulih, atau dibiarkan menetap di unit yang sekarang memegangnya
Membuat device group dan mengatur traffic group
1
Device Management › Device Groups › Create
Membuat device group dan memberi nama
2
Group Type: Sync-Failover, tambahkan kedua device ke Includes
Menentukan anggota device group
3
Network Failover: Enabled
Mengaktifkan failover lewat jaringan (bukan kabel serial)
4
Automatic Sync / Full Sync sesuai kebutuhan
Menentukan cara konfigurasi didorong ke anggota lain
5
Device Management › Traffic Groups › traffic-group-1
Memastikan objek floating berada di traffic group yang benar
6
MAC Masquerade Address (opsional)
Mempercepat failover di jaringan yang ARP cache-nya lambat berubah
11.5Config Sync#
Definisi
- Config sync
- proses menyalin konfigurasi dari satu unit ke seluruh anggota device group supaya keduanya identik
- Sync Device to Group
- mendorong konfigurasi unit yang sedang dibuka ke anggota device group lainnya — arah yang dipakai setelah perubahan dibuat di unit itu
- Sync Group to Device
- menarik konfigurasi dari device group ke unit yang sedang dibuka — dipakai bila unit ini yang tertinggal atau baru bergabung
- In Sync
- status yang berarti seluruh anggota memegang konfigurasi yang sama
- Changes Pending
- status yang berarti ada perubahan lokal yang belum didorong ke anggota lain
- Disconnected
- status yang berarti unit tidak bisa menghubungi anggota lain lewat ConfigSync address — biasanya masalah jalur HA atau device trust
Catatan
- Ubah di satu unit saja: mengedit objek yang sama di kedua unit membuat konfigurasi bercabang dan salah satu perubahan akan tertimpa saat sync
- Yang tidak ikut sync: objek khusus per-unit seperti self IP statis, alamat management, hostname, lisensi, dan sertifikat device tetap milik masing-masing unit
Menjalankan config sync
1
Buat/ubah objek (pool, virtual server, iRule) di satu unit saja
Menjaga satu sumber kebenaran konfigurasi
2
Device Management › Overview
Melihat status sync tiap anggota device group
3
Pilih device sumber › Sync Device to Group › Sync
Mendorong konfigurasi ke anggota lain
4
Pastikan status berubah menjadi In Sync
Memastikan kedua unit identik
5
Device Management › Devices › Force to Standby
Menguji failover setelah konfigurasi tersinkron
Config sync & failover dari CLI
tmsh show cm sync-status
# Melihat status sinkronisasi (In Sync / Changes Pending / Disconnected)
tmsh run cm config-sync to-group device_group_ha
# Mendorong konfigurasi dari unit ini ke device group
tmsh run cm config-sync from-group device_group_ha
# Menarik konfigurasi device group ke unit ini
tmsh show sys failover
# Memastikan peran unit (Active atau Standby)
tmsh run sys failover standby
# Menyerahkan peran Active ke unit pasangan
11.6Stateful HA: Connection & Persistence Mirroring#
Definisi
- Stateful HA
- unit standby ikut menyimpan state koneksi aktif, sehingga saat failover koneksi client tidak perlu dibangun ulang
- Connection mirroring
- menyalin connection table virtual server ke unit standby
- Persistence mirroring
- menyalin record persistence, sehingga setelah failover client tetap diarahkan ke pool member yang sama
Catatan
- Biaya: mirroring menambah beban CPU dan traffic di jaringan HA — aktifkan hanya pada virtual server yang benar-benar butuh, bukan semuanya
- Efek nyata: pengguna yang sedang mengunduh atau sedang login tidak terputus saat unit Active dipaksa standby
- Prasyarat: mirroring hanya jalan bila Primary Local Mirror Address sudah diisi di Device Connectivity (lihat 11.2) dan kedua unit berada di device group yang sama
Mengaktifkan mirroring
1
Local Traffic › Virtual Servers › pilih VS › Configuration: Advanced
Membuka opsi lanjutan virtual server
2
Connection Mirroring: Enabled
Menyalin state koneksi ke unit standby
3
Resources › Default Persistence Profile: source_addr (turunan)
Memakai persistence profile yang bisa di-mirror
4
Local Traffic › Profiles › Persistence › pilih profile › Mirror Persistence: Enabled
Menyalin record persistence ke unit standby
5
Device Management › Devices › Force to Standby
Menguji: koneksi lama tetap hidup dan tetap ke server yang sama
11.7Fail-Safe & Pemicu Failover#
Definisi
- VLAN failsafe
- BIG-IP memantau ada tidaknya traffic pada VLAN tertentu; bila sunyi melewati batas waktu, unit bisa melakukan failover atau reboot
- Gateway failsafe
- memantau gateway lewat pool khusus, sehingga unit yang kehilangan jalur ke upstream menyerahkan peran Active
- System failsafe
- memantau kesehatan internal (daemon, hardware) dan memicu failover bila ada yang gagal
- HA group
- skor gabungan dari pool, trunk, atau cluster untuk menentukan unit mana yang paling layak menjadi Active
Catatan
- Force to Standby vs Force Offline: Force to Standby menyerahkan peran Active tapi unit tetap anggota aktif; Force Offline mengeluarkan unit dari layanan untuk maintenance
Mengatur fail-safe
1
System › High Availability › Fail-safe › VLANs › Add
Memilih VLAN yang akan dipantau
2
Timeout & Action: Failover / Reboot / Restart All
Menentukan tindakan saat VLAN sunyi melebihi timeout
3
System › High Availability › Fail-safe › Gateway
Memantau pool gateway upstream
4
Device Management › Traffic Groups
Melihat unit mana yang memiliki tiap traffic group saat ini
Penting
VLAN failsafe di lab yang sepi traffic bisa memicu failover berulang (flapping). Set timeout cukup panjang, atau nyalakan hanya pada VLAN yang memang selalu ada traffic-nya.
Topik 12 dari 15
12iApps, TMSH & Otomasi#
12.1iApps#
Definisi
- iApps
- template yang membuat seluruh objek sebuah aplikasi sekaligus (node, pool, monitor, virtual server, persistence, redirect HTTP ke HTTPS) lewat satu form pertanyaan
- Application service
- hasil dari menjalankan template — seluruh objeknya dikelola sebagai satu kesatuan
- Strict updates
- setting yang mengunci objek hasil iApp agar tidak diubah manual, supaya konfigurasi tetap konsisten dengan template
Catatan
- Kapan dipakai: deployment aplikasi yang berulang dan seragam, terutama bila F5 sudah menyediakan template resminya
- Penerus modern: untuk otomasi baru, F5 mengarahkan ke AS3 (Application Services 3) lewat iControl REST, bukan iApps klasik
12.2Traffic Management Shell (TMSH)#
Definisi
- TMSH
- shell resmi untuk mengelola BIG-IP dari CLI, dengan struktur perintah yang mengikuti hirarki modul (ltm, gtm, sys, net)
Catatan
- Struktur perintah: <aksi> <modul>/<objek> <nama> <properti>, misalnya create ltm pool nama members add { ... }
- Mode interaktif: mengetik tmsh membuka shell tersendiri dengan tab-completion dan bantuan help di tiap level
- Menyimpan konfigurasi: perubahan lewat tmsh belum permanen sampai dijalankan save sys config
- Konfigurasi tersimpan: file utama berada di /config/bigip.conf dan /config/bigip_base.conf
Perintah tmsh yang sering dipakai
tmsh
# Masuk ke Traffic Management Shell
list ltm pool
# Menampilkan seluruh pool beserta member-nya
create ltm pool pool_web members add { 10.10.10.11:80 } monitor http
# Membuat pool baru
modify ltm pool pool_web load-balancing-mode ratio-member
# Mengubah metode load balancing pool
show ltm pool pool_web members
# Melihat status tiap member
delete ltm pool pool_web
# Menghapus pool
show sys failover
# Melihat status Active/Standby unit
run util bash
# Berpindah ke shell bash untuk utilitas sistem
save sys config
# Menyimpan konfigurasi ke disk
Utilitas di shell bash
curl -sku admin:<password> https://localhost/mgmt/tm/ltm/pool
# Membaca daftar pool lewat iControl REST
tcpdump -ni 0.0 host 10.10.20.100 -w /var/tmp/vs.pcap
# Menangkap traffic virtual server untuk dianalisis
cat /var/log/ltm
# Membaca log LTM (status monitor, pool member naik/turun)
Topik 13 dari 15
13Monitoring, Logging & Troubleshooting#
13.1Alat Bantu Bawaan#
Perangkat bantu operasional
| Alat | Lokasi | Dipakai Untuk |
|---|---|---|
| Log files | System >> Logs | Melihat kejadian sistem, LTM, audit konfigurasi |
| Statistics | Statistics >> Module Statistics | Jumlah koneksi & throughput per virtual server, pool, node |
| Dashboard | Statistics >> Dashboard | Pemantauan realtime CPU, memori, throughput, koneksi |
| Analytics (AVR) | Statistics >> Analytics | Visibilitas layer 7: response time, URL terpopuler, kode error |
| Network Map | Local Traffic >> Network Map | Melihat status seluruh objek dalam satu layar |
| qkview | System >> Support | Mengumpulkan seluruh konfigurasi & log untuk dianalisis |
| tcpdump | Shell bash | Menangkap paket di interface atau VLAN tertentu |
| BIG-IQ | Perangkat terpisah | Manajemen terpusat banyak BIG-IP: konfigurasi, lisensi, laporan |
13.2qkview & iHealth#
Definisi
- qkview
- berkas diagnostik berisi konfigurasi lengkap, log, dan data sistem BIG-IP pada satu titik waktu
- iHealth
- portal F5 tempat qkview diunggah untuk dianalisis otomatis — menghasilkan daftar temuan, bug yang relevan, dan rekomendasi perbaikan
Catatan
- Kegunaan praktis: qkview + iHealth adalah hal pertama yang diminta F5 Support saat membuka kasus
- Perhatian data: qkview berisi informasi sensitif, jadi unggahannya melalui akun resmi dan jangan disebar sembarangan
Membuat dan menganalisis qkview
1
System › Support
Membuka halaman pembuatan qkview
2
QKView › Generate
Membuat berkas diagnostik (butuh beberapa menit)
3
Download qkview
Mengunduh berkas ke komputer administrator
4
ihealth.f5.com › Upload
Mengunggah untuk dianalisis dan mendapat rekomendasi
13.3Alur Troubleshooting Umum#
Urutan pemeriksaan saat layanan bermasalah
1
Lihat Network Map
Menemukan objek mana yang merah/kuning lebih dulu
2
Cek status pool member & monitor
Monitor gagal adalah penyebab paling umum virtual server offline
3
Cek self IP, VLAN, dan route
Memastikan BIG-IP punya jalur ke server dan ke client
4
Cek SNAT & gateway server
Masalah jalur balik muncul sebagai koneksi yang menggantung, bukan error langsung
5
Baca /var/log/ltm
Melihat catatan monitor menaikkan/menurunkan member
6
tcpdump di sisi client dan sisi server
Memastikan di titik mana paket berhenti
Topik 14 dari 15
14Maintenance: Backup, Update & Keamanan Management#
14.1Backup (UCS & SCF)#
Definisi
- UCS
- User Configuration Set, arsip backup lengkap berisi konfigurasi, sertifikat, kunci, dan lisensi milik satu unit
- SCF
- Single Configuration File, ekspor konfigurasi dalam bentuk teks yang bisa dipakai sebagai template untuk perangkat lain
Catatan
- Kapan backup: sebelum setiap perubahan besar, terutama sebelum update software
- Simpan di luar perangkat: unduh UCS ke penyimpanan lain — backup yang hanya ada di perangkat yang rusak tidak ada gunanya
- Perhatian restore: UCS mengandung informasi khusus perangkat (termasuk lisensi), jadi restore ke unit berbeda butuh opsi khusus
Backup lewat tmsh
tmsh save sys ucs /var/local/ucs/backup-$(date +%Y%m%d).ucs
# Membuat berkas UCS dari CLI
tmsh save sys config file /var/tmp/config.scf
# Mengekspor konfigurasi sebagai SCF
tmsh load sys ucs backup-20250820.ucs
# Memulihkan konfigurasi dari UCS
Backup lewat GUI
1
System › Archives › Create
Membuat UCS lewat GUI dan memberi nama arsip
2
Download
Mengunduh arsip ke luar perangkat
14.2Update & Upgrade#
Definisi
- Boot location (volume)
- BIG-IP punya beberapa slot sistem — software baru dipasang ke slot tidak aktif sehingga versi lama tetap utuh sebagai jalan mundur
- Hotfix
- perbaikan kumulatif di atas satu versi dasar; image dan hotfix dipasang ke boot location yang sama
Catatan
- Urutan aman: backup dulu, update unit standby lebih dahulu, uji dengan menyerahkan peran Active, baru update unit satunya
- Rollback: bila hasil update bermasalah, cukup aktifkan kembali boot location lama lalu reboot
- Perhatian versi: config sync antar unit dengan versi berbeda tidak didukung, jadi jangan biarkan pasangan HA lama berbeda versi
Alur update yang aman pada pasangan HA
1
System › Archives › Create
Backup UCS sebelum apa pun dimulai
2
System › Software Management › Image List › Import
Mengunggah image/hotfix ke perangkat
3
Install › pilih boot location tidak aktif
Memasang versi baru tanpa mengganggu versi berjalan
4
System › Software Management › Boot Locations › Activate
Mengaktifkan slot baru; perangkat reboot ke versi baru
5
Device Management › Devices › Force to Standby (unit lain)
Memindahkan peran Active ke unit yang sudah di-update untuk diuji
6
Ulangi langkah 2-4 di unit pasangan
Menyamakan versi seluruh anggota HA
14.3Packet Filter & Remote Management#
Definisi
- Packet filter
- ACL sederhana di BIG-IP untuk mengizinkan/menolak traffic berdasarkan alamat, protokol, dan VLAN
- Unhandled packet action
- tindakan bawaan untuk paket yang tidak cocok dengan aturan mana pun (accept, discard, reject)
- Exemptions
- alamat, VLAN, atau MAC yang dikecualikan sehingga tidak diperiksa packet filter — biasanya jaringan management
- Port lockdown
- pembatasan akses ke self IP; untuk remote management dari VLAN tertentu, buka hanya port 22 (SSH) dan 443 (GUI) lewat Allow Custom
Catatan
- Bukan pengganti firewall: untuk kebijakan L3/L4 yang serius gunakan modul AFM; packet filter cocok untuk pembatasan sederhana
Packet filter dan akses management
1
Network › Packet Filters › General
Mengaktifkan packet filter dan menentukan unhandled packet action
2
Exemptions
Mengecualikan traffic management supaya tidak terkunci sendiri
3
Network › Packet Filters › Rules › Create
Membuat aturan, mis. menolak 10.10.10.92 menuju 10.10.10.188
4
Network › Self IPs › pilih self IP › Port Lockdown: Allow Custom (22, 443)
Membuka akses management terbatas lewat self IP
Penting
Sebelum mengaktifkan packet filter, pastikan alamat administrator masuk daftar exemption. Aturan yang salah urutan bisa memutus akses GUI/SSH ke perangkat itu sendiri, dan pemulihannya harus lewat console.
Topik 15 dari 15
15BIG-IP DNS (GSLB)#
15.1Dasar DNS#
Definisi
- DNS
- sistem yang menerjemahkan nama domain menjadi alamat IP, tersusun sebagai hirarki pohon terbalik
- Root
- puncak hirarki, dilambangkan titik (.), berisi rujukan ke seluruh top level domain
- Top Level Domain
- tingkat pertama di bawah root seperti com, org, net, dan id
- Second Level Domain
- nama yang didaftarkan organisasi, misalnya google.com, f5.com, mastersystem.co.id
- Subdomain
- tingkat di bawah second level domain, misalnya www.google.com atau portal.mastersystem.co.id
- Authoritative name server
- server yang memegang data resmi sebuah zona dan menjawab pertanyaan tentang zona itu
- Local DNS (LDNS)
- resolver milik ISP atau perusahaan yang melakukan pencarian rekursif atas nama client — inilah alamat yang dilihat BIG-IP DNS, bukan alamat client sebenarnya
Jenis record DNS yang sering ditemui
| Record | Isi | Dipakai Untuk |
|---|---|---|
| A | Alamat IPv4 | Menerjemahkan nama ke IPv4 |
| AAAA | Alamat IPv6 | Menerjemahkan nama ke IPv6 |
| CNAME | Nama lain (alias) | Mengarahkan satu nama ke nama lain |
| NS | Name server zona | Delegasi zona ke server tertentu |
| SOA | Informasi otoritas zona | Serial, refresh, dan TTL zona |
| MX | Mail server | Pengiriman email |
| PTR | Nama dari alamat | Reverse lookup |
15.2Cara Kerja & Peran BIG-IP DNS#
Definisi
- GSLB
- Global Server Load Balancing, membagi beban antar data center dengan cara memberikan jawaban DNS yang berbeda sesuai kondisi
Catatan
- Perbedaan dengan LTM: LTM membagi koneksi ke server di dalam satu lokasi, BIG-IP DNS membagi pengguna ke lokasi/virtual server yang berbeda lewat resolusi nama
- Cara kerja: BIG-IP DNS menjadi authoritative untuk nama tertentu (wide IP), lalu memilih virtual server terbaik saat menjawab query
- TTL kecil: jawaban GSLB memakai TTL pendek supaya perpindahan lokasi cepat terasa saat ada gangguan
- Ketergantungan pada LDNS: keputusan topologi dan RTT dihitung terhadap LDNS client, sehingga akurasinya bergantung pada seberapa dekat LDNS dengan pengguna sebenarnya
Alur resolusi lewat BIG-IP DNS
1
Client bertanya www.contoh.com ke LDNS
Client tidak pernah menghubungi BIG-IP DNS secara langsung
2
LDNS mencari authoritative server (root › TLD › domain)
Proses rekursif standar DNS
3
Delegasi NS mengarah ke listener BIG-IP DNS
BIG-IP DNS menjadi authoritative untuk wide IP tersebut
4
BIG-IP DNS memilih pool & virtual server terbaik
Berdasarkan status monitor, metode load balancing, dan topologi
5
Jawaban A record dikirim ke LDNS › client
Client lalu menghubungi virtual server LTM di data center terpilih
15.3Komponen GSLB#
Definisi
- Listener
- alamat IP tempat BIG-IP DNS mendengarkan query DNS pada port 53 (TCP dan UDP) — biasanya memakai self IP external
- Data Center
- representasi lokasi fisik; seluruh server dan link dikelompokkan berdasarkan data center-nya
- Server
- objek yang mewakili perangkat penyedia layanan (BIG-IP LTM lain, atau server generik) beserta daftar virtual server-nya
- Link
- koneksi ke ISP dari sebuah data center, dipakai untuk perhitungan ketersediaan dan biaya jalur
- Pool (GSLB)
- kumpulan virtual server dari satu atau beberapa data center yang melayani nama yang sama
- Wide IP
- nama domain yang dikelola BIG-IP DNS (mis. www.contoh.com) beserta pool-pool yang melayaninya
- big3d & iQuery
- agen di tiap BIG-IP yang mengirim status virtual server dan metrik ke BIG-IP DNS lewat kanal terenkripsi iQuery di port 4353
- Prober pool
- kumpulan perangkat yang ditugaskan melakukan monitoring terhadap server GSLB
Padanan objek GSLB dengan LTM
| Objek | Analogi di LTM | Isi |
|---|---|---|
| Data Center | — | Lokasi: server, link, dan prober di dalamnya |
| Server | Perangkat/host | BIG-IP LTM atau server generik + daftar virtual server |
| Virtual Server (GSLB) | Virtual server LTM | Alamat layanan nyata yang akan dijawab ke client |
| Pool (GSLB) | Pool LTM | Kumpulan virtual server + metode load balancing |
| Wide IP | Virtual server (titik masuk) | Nama domain + pool yang melayaninya |
15.4Konfigurasi BIG-IP DNS#
Urutan konfigurasi GSLB dari nol
1
Network › VLANs (ISP1, ISP2, Internal)
Menyiapkan VLAN sesuai jalur ISP dan jaringan internal
2
Network › Self IPs
Memberi alamat BIG-IP di tiap VLAN
3
DNS › Delivery › Listeners › GTM Listeners › Create
Membuat listener (alamat DNS) dengan protokol TCP dan UDP
4
DNS › GSLB › Data Centers › Create
Mendefinisikan lokasi data center beserta namanya
5
DNS › GSLB › Links › Create
Mendaftarkan link ISP: nama, alamat gateway router, dan data center-nya
6
DNS › GSLB › Servers › Server List › Create
Mendaftarkan server: product, address, data center, health monitor (mis. tcp/bigip)
7
Server › Virtual Servers › Add
Menambahkan alamat virtual server dari LTM ke objek server
8
DNS › GSLB › Pools › Pool List › Create
Membuat pool tipe A dan memasukkan virtual server yang tadi didaftarkan
9
DNS › GSLB › Wide IPs › Wide IP List › Create
Membuat wide IP: nama = domain yang dilayani, tipe A, lalu pasang pool
10
Uji dengan nslookup/dig ke listener
Memastikan jawaban berubah sesuai kondisi pool
Verifikasi dari CLI
tmsh list gtm wideip a
# Melihat seluruh wide IP tipe A beserta pool-nya
tmsh show gtm pool a pool_www
# Melihat status virtual server anggota pool GSLB
tmsh show gtm server server_ltm1
# Memastikan komunikasi iQuery ke BIG-IP LTM sehat
dig @10.10.20.53 www.contoh.com
# Menguji jawaban langsung dari listener BIG-IP DNS
15.5Metode Load Balancing GSLB#
Definisi
- Global Availability
- selalu memilih virtual server pertama dalam daftar yang statusnya up — pola active/standby antar data center
- Topology
- memilih berdasarkan kedekatan geografis/region antara LDNS dan data center, memakai topology records
- Round Trip Time
- memilih data center dengan waktu tempuh terendah dari LDNS
- Ratio & Round Robin
- pembagian proporsional atau merata antar data center
- Virtual Server Capacity
- memilih berdasarkan kapasitas/jumlah member yang tersedia di tiap virtual server
- Static Persist
- menjamin LDNS yang sama selalu mendapat jawaban yang sama selama masih valid
Catatan
- Preferred, Alternate, Fallback: tiap pool GSLB punya tiga tingkat metode — bila metode utama tidak menghasilkan jawaban, BIG-IP DNS turun ke metode berikutnya
Metode load balancing di level pool GSLB
| Metode | Dasar Pemilihan | Kasus Pemakaian |
|---|---|---|
| Global Availability | Urutan daftar + status up | Data center utama dan cadangan |
| Round Robin | Bergiliran | Dua data center setara |
| Ratio | Bobot manual | Kapasitas data center berbeda |
| Topology | Region/negara LDNS | Mengarahkan pengguna ke lokasi terdekat |
| Round Trip Time | Latensi terukur ke LDNS | Optimasi performa dinamis |
| VS Capacity | Kapasitas virtual server | Beban dibagi sesuai kemampuan nyata |
| Static Persist | Hash alamat LDNS | Menjaga konsistensi jawaban |
Penting
Wide IP juga punya metode load balancing tersendiri untuk memilih ANTAR pool (mis. Global Availability), sedangkan metode di dalam pool memilih virtual server. Dua level ini sering tertukar saat troubleshooting jawaban yang tidak sesuai harapan.
15.6Integrasi dengan LTM & Delegasi Domain#
Definisi
- DNS Express
- fitur BIG-IP DNS yang menyimpan zona hasil transfer dari server DNS utama di memori dan menjawabnya dengan sangat cepat, sekaligus melindungi server asli
- DNS Cache & DNSSEC
- BIG-IP DNS bisa berperan sebagai resolver cache dan menandatangani jawaban secara DNSSEC di jalur GSLB
- Sync group GSLB
- beberapa BIG-IP DNS dapat dikelompokkan agar konfigurasi wide IP dan data center-nya selalu identik
Catatan
- Sinkronisasi status: BIG-IP DNS mengetahui status virtual server LTM lewat iQuery, sehingga wide IP tidak akan menjawab alamat yang pool LTM-nya sedang down
- Device trust GSLB: BIG-IP LTM harus ditambahkan sebagai objek server dan saling bertukar sertifikat (bigip_add) agar iQuery terbentuk
- Delegasi: agar BIG-IP DNS benar-benar dipakai, zona induk harus mendelegasikan nama tersebut lewat record NS ke listener BIG-IP DNS
Penting
Kalau semua objek GSLB hijau tetapi client tetap mendapat alamat lama, periksa dua hal sebelum yang lain: TTL jawaban sebelumnya yang masih disimpan LDNS, dan apakah delegasi NS di zona induk memang sudah mengarah ke listener BIG-IP DNS.